DOKTRIN BAPTISAN
1. Sejarah Baptisan secara Singkat
Sejarah baptisan berakar dari tradisi Yahudi dalam Perjanjian Lama, yang dikenal dengan istilah "tevilah", yaitu pencelupan dalam air sebagai bentuk pemurnian dan persiapan masuk ke dalam komunitas umat Allah. Kisah Naaman yang mencelupkan diri di sungai Yordan (2 Raja-raja 5:10-14) menjadi contoh konkret dari tindakan simbolis ini. Dalam Perjanjian Baru, istilah Yunani "baptizô" berarti mencelupkan atau menenggelamkan. Yohanes Pembaptis adalah tokoh penting yang memperkenalkan praktik baptisan sebagai tanda pertobatan dan persiapan menyambut kedatangan Mesias (Markus 1:4-5). Yesus sendiri dibaptis, bukan sebagai tanda pertobatan, tetapi sebagai teladan dan konfirmasi (Matius 3:13-17). Seiring perkembangan gereja, praktik baptisan mengalami variasi. Baptisan selam umum digunakan pada gereja mula-mula, namun sejak abad ke-3 mulai muncul baptisan percik karena faktor konteks dan kebutuhan, seperti baptisan anak dan kondisi orang sakit. Gerakan Reformasi dan Injili kemudian memulihkan kembali baptisan selam sesuai makna aslinya.
2. Makna Baptisan
Baptisan merupakan perintah langsung dari Yesus, yang tercantum dalam Amanat Agung:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”(Matius 28:19).
Makna baptisan sangat dalam secara teologis. Baptisan menjadi tanda lahir baru, pertobatan, dan dimeteraikannya seseorang sebagai milik Allah. Dalam Roma 6:1-7 dan Kolose 2:11-12, baptisan digambarkan sebagai proses mati terhadap dosa dan bangkit dalam hidup baru bersama Kristus. Baptisan menyimbolkan pembersihan spiritual, peralihan dari manusia lama ke manusia baru, dan menjadi ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Selain itu, melalui baptisan seseorang menjadi anggota resmi jemaat, memiliki hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bergereja. Dengan demikian, baptisan adalah pernyataan iman yang mendalam, bukan hanya simbol luar, tetapi juga deklarasi rohani yang mengikat secara pribadi dan komunal.
3. Cara meresponi makna baptisan
* Hidup yang berubah: Baptisan adalah awal dari hidup yang baru, maka hidup setelah baptisan tidak boleh sama seperti sebelumnya. Harus ada perubahan yang nyata dalam cara hidup sehari-hari (Roma 6:4).
* Menjadi garam dan terang dunia: Orang yang sudah dibaptis terpanggil untuk menjadi kesaksian hidup yang berdampak, mempengaruhi lingkungannya secara positif (Matius 5:13-16).
* Menunjukkan karakter Kristus: Kesaksian hidup seseorang yang telah dibaptis harus mencerminkan kasih, kebenaran, dan kerendahan hati Kristus dalam segala aspek kehidupannya (Galatia 5:22-23).
- Menjadi surat yang terbuka: Hidup orang percaya harus menjadi “surat yang hidup” yang dapat dibaca oleh orang lain, menjadi cerminan nyata dari injil Kristus (2 Korintus 3:2-3).
* Memelihara semangat rohani: Semangat persiapan dalam katekisasi dan kekhusyukan saat prosesi baptisan harus diteruskan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai obor rohani yang terus menyala.
Comments