Kebaktian PB (Sabtu, 11 Januari 2025)



Meninggalkan yang lama, dan menyambut yang baru dalam Kristus

Kita hidup dalam dunia yang ribut dan penuh ketergesa-gesaan. Banyak yang tidak bisa berdiam diri dan tenang bersama dengan Tuhan. Keheningan biasanya membuat tidak nyaman. Markus 1:35. Tuhan Yesus setelah berbagai kesibukanNya yang diceritakan pada ayat ayat sebelumNya, masih menyempatkan diri untuk pergi ke tempat terpencil di pagi-pagi benar untuk berdoa. Rahasia dari kuasa Tuhan Yesus sehingga mampu mengusir setan dan mengajar dengan sangat baik adalah doa dan relasiNya dengan Bapa. Kita tidak akan mampu digunakan sebagai alat pelayanan Bapa yang luar biasa tanpa memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Setiap Tuhan Yesus bersaat teduh, Ia diingatkan kembali akan tujuan sebenarnya. Apakah kita mau hidup kita dipakai oleh Tuhan. 

Sebagai umat Kristen, refleksi diri di awal tahun membantu kita memahami bagaimana kasih dan rahmat Tuhan telah menyertai setiap langkah kita di tahun sebelumnya. Ratapan 3:22-23: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap hari, termasuk di tahun yang baru, Tuhan selalu memberikan rahmat dan kasih setia-Nya yang tak berkesudahan.

Setiap saat akan banyak distraksi yang dapat mengganggu kita. Namun saat kita bersaat teduh, Tuhan mengajak kita untuk berfokus dan mengingat kembali tujuan hidup kita. Refleksi adalah waktu kita memikirkan kembali hidup kita. Apa yang sudah kita jalani dan goals ke depan yang akan kita lakukan. Refleksi berguna untuk melihat apa yang perlu kita ubah dari sebelumnya (seperti karakter, kesabaran, dan manajemen waktu). Kita sebagai manusia yang berdosa dan terbatas akan sering jatuh dalam sebuah kesalahan berulang. Maka dari itu tidak ada batasan untuk kita bisa merefleksikan diri. Refleksi dapat dilakukan kapan saja. Merefleksikan diri tidak harus tahun baru, setiap hari kita harus merefleksikan diri. Waktu merefleksikan diri itu berbeda bukan dengan mengurung diri dan mengosongkan pikiran, merefleksikan diri dengan berdiam diri dengan saat berpikir kita mencatat apa yang kita pikirkan, atau membaca Firman untuk mencegah pikiran kemana-mana, membuat rencana untuk perbaikan atau perubahan, berkomitmen untuk berubah dan semakin dekat dengan Tuhan. 



Comments