Kebaktian PB (Sabtu, 13 Januari 2024)

RESPONSIBLE FREE WILL

Shalom sobat PMKerz! Bagaimana kabarnya? Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan. Telah dilaksanakan kebaktian PB pertama pada Sabtu, 13 Januari 2024 via zoom meeting, pukul 16.00 WITA.

Kehendak bebas dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia. Melaluinya kita dihadapkan sebuah pilihan untuk memilih dengan konsekuensi dari setiap pilihan. Akan tetapi, sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa hidup kita tetap milik Tuhan sehingga kehendak bebas yang Ia anugerahkan harus sesuai dengan kehendak-Nya.

Tema kebaktian PB ini adalah Responsible Free Will yang akan membahas mengenai makna kehendak bebas menurut Alkitab, konsekuensi dari pilihan yang tidak sesuai kehendak Tuhan, cara agar tetap menggunakan kehendak bebas yang benar, serta contoh teladan tokoh Alkitab dalam menggunakan kehendak bebasnya.

Berikut adalah nama pelayan pada kebaktian PB, sebagai berikut:

Pembicara : Pdt. Petrus Kondorura, S.T., M.Th Kons.

MC : Desi Paembonan (D4 Terapi Gigi’22)

Pendamping MC : Tri Meilyati (PSKH’21)

Pemerhati

  • Dwiclara sambo langi’ (PSIK’22) 
  • ⁠Glori Datu Andi Lolo (PSIK’22)

Tim Pendoa :

  • Ratu Tambila (PSIK’23)
  • Meilyarni Lopang (PSIK’23)
  • Glory Meicy Tandungan (Psi’23)
  • Nicholas Daniel Ratumbuisang Paoki (PDU’23)

Operator : Benaya Allan Clayton Runtunuwu (Fisio'23) 

Dokumentasi :


RESPONSIBLE FREE WILL

 Menurut KBBI, kehendak adalah kemauan atau keinginan yang keras, sedangkan bebas adalah tidak terbatas. Kehendak bebas adalah kualitas atau keadaan bebas seperti tidak ada keharusan, paksaan atau kendala dalam memilih atau bertindak, dan adanya pembebasan dari perbudakan (kemerdekaan). Secara teologis, kehendak bebas adalah pemberian Tuhan kepada manusia untuk dibedakan dari ciptaan lainnya. Manusia menerima kehendak bebas dari Allah sejak lahir namun kehendak bebas itu diberikan dengan tujuan memuliakan Allah dan digunakan dengan penuh rasa tanggung jawab atas semua apa yang dilakukan dan konsekuensi dari perbuatan atau tindakan tersebut. 

 Kehendak bebas yang diberikan Tuhan bukan kehendak bebas yang tanpa tujuan, melainkan kehendak bebas yang memiliki aturan dan harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam Kejadian 2:16-17 ”lalu Tuhan Allah memberikan perintah kepada manusia: semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Pada ayat tersebut dikatakan bahwa Tuhan Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk makan semua buah dalam taman Eden kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Namun, manusia melanggar perintah Tuhan, yang menyebabkan manusia jatuh dalam dosa (maut). Oleh karena itu, manusia harus dipulihkan karena telah melakukan kehendak bebas dengan salah oleh Adam dan Hawa (manusia pertama).

 Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kehendak bebas manusia merepresentasikan kasih Allah, tetapi ketika manusia jatuh dalam dosa kehendak bebas hilang, yang ada adalah kehendak bebas yang pada akhirnya membawa manusia pada jalan yang salah (tidak mewakili Allah). Meskipun manusia telah menggunakan kehendak bebasnya dengan salah dan mengecewakan Tuhan, namun karena kasih-Nya Tuhan telah mengampuni manusia dan tetap memberikan kita kehendak bebas. Sebagai orang percaya yang telah menerima pengampunan dari Tuhan, sudah semestinya menggunakan kehendak bebasnya sesuai dengan kehendak Tuhan. 

Dalam hidup orang percaya ada tiga fase yang harus dilalui agar menjadi serupa dengan Kristus, yaitu 

1. Justification (dibenarkan) (Roma 5:9; 8:30; 10:10)

Manusia telah berdosa yang mengakibatkan hubungan dengan Tuhan rusak, maka hubungan tersebut harus diperbaiki dengan cara manusia harus dibenarkan kembali. Roma 5:9 menjelaskan bahwa ketika manusia benar-benar menerima Tuhan maka ia akan dibenarkan oleh darah Yesus dan diselamatkan dari murka Allah yang artinya diselamatkan dari kematian kekal (maut). 

2. Sanctification (dikuduskan) (2 Timotius 2:21)

Menggunakan kehendak bebas dengan penuh rasa tanggung jawab. Dalam 2 Timotius 2:21 mengajarkan bahwa jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia dikuduskan dan dipangdang layak, maka ketika kita sadar bahwa telah melakukan hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, kita harus datang kepada Tuhan untuk mengaku kesalahan dan meminta pengampunan dari Tuhan. 

3. Glorified (dimuliakan) (Roma 8:30)

Saat kita mengaku setiap kesalahan kita kepada Tuhan dan berbalik untuk setia hidup seturut firman Tuhan, maka kita sama-sama akan dimuliakan bersama dengan Tuhan. Dalam Roma 8:30, mereka yang telah dibenarkan dan dikuduskan akan dipermuliakan bersama Kristus.

Ada dua tokoh pemuda dalam Alkitab yang dapat kita jadikan contoh dalam kehidupan kita sebagai pemuda Kristen dalam menggunakan kehendak bebas, yaitu

1. Daniel (Daniel 6:1-23)

 Dalam Daniel 6:1-23 dikisahkan bahwa pada saa itu Darius sebagai penguasa atas Babel sangat mengasihi Daniel dan ingin menjadikannya pemimpin atas seluruh kerjaaan. Namun, beberapa orang bijaksana raja merasa iri kepada Daniel, sehingga mereka mencari-cari kesalahan Daniel. Kemudian, orang-orang bijaksana itu tahu bahwa Daniel selalu taat berdoa kepada Allah, maka mereka menipu raja Darius agar membuat hukum baru, yaitu siapa pun yang berdoa kepada Allah akan dilemparkan kedalam gua singa. Meskipun hukum tersebut sudah di tetapkan, Daniel dengan kehendak bebasnya tetap memilih untuk berdoa kepada Allah yang kemudian membuat Daniel dilemparkan kedalam gua singa dan didalam gua singa Tuhan tetap bersama dengan Daniel dan tidak membiarkan singa-singa menyakitinya. 

 Dari kisah Daniel, kita belajar bahwa manusia memerlukan pembebasan dari perbudakan dosa, manusia akan merepresentasikan kehadiran Allah hanya ketika manusia tingal di dalam Yesus, dan menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk memuliakan Tuhan. Selain itu, kisah Daniel juga mengajarkan bahwa ketetapan hati, kesetiaan kepada Tuhan, dan komitmen sangat dibutuhkan dalam menggunakan kehendak bebas agar sesuai dengan kehendak Tuhan. 

2. Yusuf

 Saat saudara-saudara Yusuf melihat bahwa Yakub ayahnya lebih mengasihi Yusuf, maka bencilah mereka kepada Yusuf bahkan mereka hendak membunuh Yusuf dan pada akhirnya saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf kepada rombongan orang Ismael yang sedang dalam perjalanan ke Mesir. Pencobaan yang dialami Yusuf tidak sampai disitu, saat Yusuf telah menjadi orang kepercayaan Raja Mesir, ia digoda oleh istri Potifar, meskipun hampir setiap hari ia dirayu oleh istri Potifar ketaatan Yusuf kepada Tuhan tidak goyah. Yusuf menggunakan kehendak bebasnya dengan bertanggung jawab dengan memilih untuk tetap menjaga kesuciaan dirinya dan menolak rayuan istri Potifar karena dia menyadari bahwa berdosa akan menyakiti Allah. 

 Dari kisah Yusuf kita belajar bahwa saat diperhadapkan dengan godaan-godaan dalam kehidupan kita, kita harus berani untuk menolak godaan itu agar tidak jatuh dalam dosa dan senantiasa memilih untuk takut akan Tuhan.

Comments