IBADAH PERSEKUTUAN BESAR, 30 APRIL 2022

 Ibadah Persekutuan Besar

30 April 2022

Hari, Tanggal : Sabtu, 30 April 2022

Waktu : 16.00 WITA

Tempat : Via Zoom Meeting

Pembicara : Triawan Wicaksono S.T, M.Div

Tema :  Eksposisi Tokoh Daniel

Pelayan :

MC : Venny Septiani S. (PSIK '21)

Pendamping MC : Adinda Permata Linggi (PSIK '18)

Gitaris : - Giano Alfason P. (PDU '20)

                - Jedidya Ricardo S. (PDU '21)

Cajonist : Deky Palulun (PDU 20)

Singers : - Alfa Septiano R. (Psi '21)

                - Ronal Samuel D. (PDU '21)

                - Vivi Tantriawan (PDU '21)

                - Ola Sri Sartika (PDU '21)

Pendamping Pemusik : William Chandra Papendang (PDU '16)

Pemerhati : - Anggeline Malino (PSIK '21)

                    - Grace Yuanita N. (PSIK '21)

Operator : Roynald Daniel D. (PDU '20)







EKSPOSISI TOKOH DANIEL

“IMPACTFUL GENERATION”


            Sebagai anak muda, salah satu karakteristik yang melekat dengan diri kita adalah “senang mencoba hal baru”. Sikap ini merupakan hal yang baik karena dapat membantu kita untuk berkembang. Namun, kita juga harus waspada agar rasa ingin tahu kita terhadap hal-hal yang baru tidak jatuh pada hal-hal yang salah atau tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Daniel adalah seorang tokoh anak muda (usia sekitar 16 - 19 tahun) yang dapat kita teladani karena kehidupannya yang jauh dari pengaruh hal-hal buruk serta bisa menjadi berkat besar bagi sesama dan memuliakan Tuhan.


            Kisah Daniel diawali dengan kekalahan Yehuda dalam perang sehingga Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangan Nebukadnezar. Pada saat itu, orang-orang muda terbaik dari Yehuda mengalami pembuangan untuk dididik dan dipekerjakan kepada raja dengan tujuan melemahkan bangsa Yehuda secara permanen di bawah kekuasaan Babel. Tanpa kaum muda, kaum bangsawan, dan kaum intelektual, Yehuda tidak akan mungkin bangkit kembali. Dalam situasi yang dihadapi Daniel saat itu, Allah yang mereka percaya terlihat sudah kalah. Namun, apakah masih ada harapan dalam situasi seperti itu? Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai mahasiswa, mungkin kita juga akan diperhadapkan dalam situasi seperti ketika nilai studi merosot, mengalami kegagalan, ketika cinta ditolak, doa tidak kunjung dijawab, ketika kita menderita, berduka, dan mengalami situasi buruk lainnya. Sama dengan situasi Daniel saat itu, apakah masih ada harapan di dalam Allah ? Kisah hidup Daniel meninggalkan pesan yang dapat kita ingat, yaitu “Jika kita percaya kepada Tuhan, maka SELALU ADA HARAPAN!”


            Saat berada dalam pembuangan, Daniel dan kawan-kawannya mendapatkan perlakuan istimewa dan di luar dugaan. Mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim, dididik selama 3 tahun untuk bekerja bagi raja, dan mereka juga diberikan makanan dan minuman raja. Selain itu, mereka diberikan identitas baru sehingga mereka tidak memakai nama Yahudi lagi. Perlakuan istimewa seperti ini di tengah situasi yang mereka alami tentu akan sangat mudah menggoyahkan kepercayaan yang mereka pegang. Menikmati santapan raja terlihat sebagai kesempatan hidup senang dan nyaman di tengah penderitaan sebagai tawanan. Untungnya, Daniel dan teman-temannya dapat terhindar dari tawaran tersebut karena makanan raja sesungguhnya mengandung racun maut. Daniel akan melanggar hukum Taurat karena makanan raja ada yang haram dan mengandung darah. Selain itu, menerima perlakuan istimewa akan membuat mereka merasa bergantung/berhutang budi kepada Raja Babel, sehingga mereka akan loyal kepada raja dan melupakan Allah dan bangsa mereka. Nama baru yang mereka dapatkan juga sebenarnya bertujuan agar mereka lupa pada identitasnya dan tidak lagi mengingat Tuhan Allah Israel sebagai sumber hidup dan kekuatan mereka. Nama yang diberikan memiliki arti yang berlawanan dengan nama mereka. Daniel yang artinya Allah adalah hakimku yang maha kuasa diganti menjadi Beltsazar yang artinya Dewa Babel adalah hakimku yang kekal.


            Dunia yang kita hadapi saat ini juga banyak menawarkan kenikmatan. Kedudukan yang tinggi, kesuksesan, uang yang banyak, dan berbagai kenikmatan lainnya merupakan hal yang dikejar oleh semua orang. Dalam mencapai kenikmatan tersebut, kita sebagai anak muda zaman sekarang sering kali berusaha untuk mencoba berbagai hal baru karena prinsip YOLO (You Only Live Once), tanpa memikirkan kebenarannya di hadapan Tuhan. Kondisi Daniel yang diperhadapkan pada berbagai tawaran kenikmatan sangatlah mirip dengan tawaran dunia yang kita hadapi saat ini. Namun, saat berada dalam pembuangan itu, Daniel memilih untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja. Daniel menolak kenikmatan tersebut karena Ia tidak mau melanggar Taurat. Artinya, Daniel memiliki prinsip yang kuat dan tidak mudah terbawa arus. Dari sikap Daniel ini, kita dapat belajar mengenai pentingnya berhikmat, sebab tidak semua hal baik datang dari Allah dan tidak semua yang buruk pasti bukan dari Allah. Untuk itu, kita harus berhikmat dalam membedakan dan memilih hal-hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus percaya, bahwa orang yang taat kepadaNya akan selalu menerima pertolongan dan mujizat. Terbukti, Daniel dan kawan-kawannya  menjadi sepuluh kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaan, karena memilih untuk taat kepada Allah.


            Ketaatan dapat membawa risiko besar dalam kehidupan kita, tetapi ingatlah bahwa ketaatan juga membawa berkat besar bagi mereka yang tetap setiap melakukannya. Terkadang, berkat dari ketaatan yang kita lakukan tidak kunjung nampak. Bahkan, mungkin tidak akan nampak sampai kita mati, sama seperti Kristus yang mati di kayu salib, terlihat sebagai orang yang gagal total, tetapi memilih untuk tetap taat sampai mati. Begitu juga dengan kita, kita harus belajar untuk setia pada ketaatan kita di tengah pengaruh buruk apa pun yang ada di hadapan kita. Saat Daniel menolak berbagai penawaran istimewa dari raja, Daniel tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Ia tidak pernah tahu apakah Tuhan akan hadir dan selalu melindungi serta memberi pertolongan, memberikannya pengetahuan yang luar biasa, dan bahkan menjadikannya orang nomor dua setelah raja. Akan tetapi, saat itu Daniel tetap taat. Ia tetap setia pada perkara kecil, walaupun risikonya tinggi dan Ia tidak tahu akankah ada pertolongan dan berkat dari Allah dalam kehidupannya. Dari kisah Daniel ini, kita dapat belajar bahwa ketaatan dan kesetiaan pada perkara kecil lebih penting dari berkat dan keberhasilan. Di dunia ini ketaatan kita bisa nampak sia-sia, tetapi percayalah bahwa ketaatan itu bernilai kekal dan Tuhan akan dimuliakan di dalamnya. Oleh karena itu, mari kita berjuang menjadi mahasiswa yang berkualitas, tekun belajar, setia pada perkara kecil, dan taat kepada setiap perintah Allah, sehingga kita bisa menjadi “Impactful Generation” yang membawa berkat dan memuliakan Allah lewat setiap perkataan dan perbuatan kita. 




Comments