IBADAH PERSEKUTUAN BESAR, 26 Februari 2022

Ibadah Persekutuan Besar 26 Februari 2022

Hari, Tanggal : Sabtu, 26 Februari 2022 

Waktu  : 16.00 WITA - selesai

Tempat : Via Zoom Meeting

Pembicara : Pdt. Rotua Siregar, M.Th

Tema Sex and Spirituality

Pelayan :

MC : Meilona Maya Kala’lembang (PDU 20)

Pendamping MC : Inesia Ayudita Paloloan (PSIK 18)

Gitaris : Megatriani Matandung (FKG 17)

Cajon : William Henry Paundanan (PDU 19)

Singers : - Ola Sri Sartika (PDU 21)

               - Tri Meilyati (KH 21)

               - Zwingly Kwalepa(PDU 21)

Pemerhati : - Alfa Septiano Raiders (Psi' 21

                   - Yelsintha Saalino (PDU 20)

Operator  : Yuni Angkitibala (PDU 21)







SEX AND SPIRITUALITY

Seks dan spiritualitas adalah sesuatu yang saling mengikat dan dekat dengan kita sebagai anak muda yang sedang dalam proses menuju kedewasaan. Di usia kita saat ini, tentu mulai timbul perasaan tertarik untuk mengenali lawan jenis kita secara lebih dekat. Ketika ada perasaan nyaman atau kecocokan satu sama lain, tidak jarang dari anak seusia kita yang memulai hubungan pacaran. Berpacaran merupakan hal yang normal, tetapi sebagai anak muda kristen kita harus mengetahui bahwa ada batasan yang harus kita jaga sebelum terikat dalam pernikahan kudus.

Dosa yang paling menggoda diantara pasangan yang sedang dekat adalah dosa seksual. Sayangnya, beberapa bukti menyatakan bahwa saat ini, sudah banyak orang yang menganggap hubungan seks sebagai hal yang normal dan bahkan dianggap sebagai mainan. Di masa ini, sudah banyak anak muda yang tidak malu untuk mengakui bahwa mereka telah melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Bahkan, beberapa gereja pun terbuka untuk memberkati pasangan yang telah hamil di luar nikah. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak anak muda kristen yang belum memahami bentuk hubungan seks yang benar.

Seks adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada pasangan suami istri yang kudus di hadapan Tuhan. Namun, seks juga dapat menjadi sebuah tantangan besar menyangkut spiritualitas kita. Spiritualitas tidak hanya berbicara soal agama yang kita anut, tetapi juga mengenai roh yang ada dalam diri kita. Seks merupakan bentuk dosa yang paling nikmat bagi pasangan yang tidak kudus di hadapan Tuhan. Sebagai bentuk dosa, maka seks memiliki sifat yang membuat seseorang ketagihan. Setiap bentuk dosa tidak akan berjalan sendiri karena satu dosa akan selalu mencari dosa berikutnya. Dosa seks yang awalnya bisa saja dilakukan karena rasa penasaran dan nafsu yang besar bisa menjadi akar yang akan bertumbuh dan membuahkan dosa- dosa lainnya, seperti aborsi, penggunaan obat-obatan terlarang, dsb.

Dosa seks dapat menimbulkan generasi yang toxic. Orang yang telah jatuh ke dalam dosa seksual akan memiliki penyesalan seumur hidup yang membuat mereka merasa tidak percaya diri karena merasa diri sebagai orang yang kotor dan hina, sehingga menarik diri dari berbagai kegiatan kerohanian. Untuk itu, pemahaman kita mengenai seks harus diubah. Banyak orang yang mengutamakan keinginan, hasrat, serta kenikmatan yang ditawarkan iblis, sehingga mereka mengesampingkan kewajiban kepada Tuhan. Alkitab tidak melarang kita untuk jatuh cinta, tetapi kita harus menanamkan dalam pikiran kita, bahwa cinta itu memiliki logika dan harus dijalankan dengan berbagai pemikiran serius. Untuk menghindari dosa seksual, maka kita dapat melakukan hal-hal berikut.

1. Pertama, kita harus memikirkan, apakah seks itu berguna atau tidak ?

Orang yang akar pengenalannya benar kepada Tuhan akan mengetahui hal yang boleh dilakukan serta hal yang berguna atau tidak. Generasi kita sering berpikir secara instan dan tidak memikirkan bahwa hal yang memberikan kenikmatan hari ini, belum tentu akan tetap memberi kenikmatan di kemudian hari. Matius 22:37 mengingatkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal kita. Artinya, ketika kasih kita kepada Kristus benar, maka hal benar pun juga akan keluar dalam setiap tindakan kita. Jika dalam hubungan pacaran, pasangan kita telah melakukan hal yang tidak benar, maka lebih baik untuk meninggalkan hubungan tersebut.

2. Kedua, sadari bahwa tubuh kita bukanlah milik kita.
Seks dan spiritualitas berbicara tentang kesadaran dimana kita memiliki pribadi yang sadar 
bahwa “tubuhku untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuhku”. Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, adalah dosa yang dilakukan di luar diri, kecuali dosa seks yang merupakan dosa yang dilakukan kepada tubuh kita sendiri. Tubuh kita adalah anugerah dari Tuhan, untuk itu kita harus menghargai Tuhan sebagai pemilik tubuh ini, dan mengerti pada setiap batasan yang diberikan kepada kita.

3. Ketiga, penyerahan kepada Tuhan.
Penyerahan diri bukan hanya sekedar aktivitas agama. Ketika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, maka seluruh jiwa dan perasaan kita adalah untuk Tuhan. Tubuh kita adalah bait roh kudus yang kita peroleh dari Allah. Untuk itu, sebelum melakukan sesuatu, kita harus berdoa agar Tuhan ada bersama kita dan menjaga hati serta pikiran kita agar tidak melakukan hal-hal di luar batasan. Ketika berpacaran, hal yang tepat adalah saling mengasihi dan menjaga satu sama lain, bukan mengutamakan nafsu untuk kenikmatan sesaat.

Sex berbicara tentang seluruh tubuh, bukan hanya alat kelamin. Spiritualitas berbicara mengenai iman dan mental kita kepada Tuhan. Pacaran adalah hal diperbolehkan, tetapi jangan pernah melakukan seks sebelum terikat pernikahan kudus. Selalu berserah kepada Tuhan, karena orang yang berserah pada Tuhan akan tahu bahwa dirinya berharga untuk Tuhan.

Comments