IBADAH PERSEKUTUAN BESAR

Ibadah Persekutuan Besar 
Waktu          : 14 Agustus 2021
Tema           : "Servant Leadership"
Pembicara   : Pdt. Lukas Dayung, M.Th
MC              : Ulfa Desianti Liding (PSKH'19)
Operator      : Adeline Payung Allo (FKG'20)
Pemerhati    : 1. Michael Abednego (PSIK'20)
                      2. Lionel Massudi (PDU'20)
Tim Pendoa : 1. Destasya Mallua (PSIK'19)
                      2. Seflyn Christin (Fisio'19)
                      3. Herodion (FKG'20)
Tempat        :   Rumah masing-masing (via zoom)  






Resume "Servant Leadership"

                 Jika mendengar kata ‘pemimpin’, apakah yang tergambarkan di dalam pikiran kita? Mungkin yang terlintas ialah seorang yang berani, seorang yang bijak, seorang yang mampu memimpin orang banyak, atau mungkin seorang yang berkuasa. Jika dilihat dari artinya, pemimpin adalah seorang yang mampu memengaruhi orang atau kelompok atau organisasi untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati bersama. Namun, apakah dengan itu saja cukup untuk menjadi seorang pemimpin?

                Sebagai seorang Kristen, tentu saja tidak cukup. Untuk menjadi seorang pemimpin, terlebih dulu kita perlu tahu untuk melayani. Pemimpin yang melayani adalah seorang pemimpin yang memiliki mengerjakan tanggung jawabnya untuk Tuhan dan cenderung mengutamakan pelayanan terhadap orang lain dengan berdasarkan kasih. Seorang pemimpin yang melayani ialah seorang yang memimpin dengan rasa rendah diri dan memiliki hati hamba. Sangat penting untuk menjadi seorang pemimpin yang melayani karena dengan begitu, dalam mengerjakan tanggung jawab sebagai pemimpin, kita dapat menyadari bahwa tujuan kita menjadi pemimpin semata-mata yaitu untuk melayani Tuhan dan bukan untuk keuntungan pribadi kita, tugas-tugas yang dikerjakan itu untuk kemulian Tuhan dan bukan untuk manusia. Selain itu, dengan menjadi seorang pemimpin yang melayani terlebih dahulu, kita dapat lebih menghargai setiap orang, kita dapat belajar melihat orang/kelompok/organisasi yang kita pimpin sebagai satu tubuh Kristus yang masing-masing memiliki peran penting.

                Untuk menjadi seorang pemimpin yang melayani, kita perlu memiliki motivasi yang benar, yaitu tentu saja untuk Tuhan dan bukan untuk diakui manusia atau untuk mendapatkan pujiian bagi pribadi kita, oleh sebab itu, memiliki prinsip sebagai pemimpin yang melayani membuat kita tidak boleh sombong, harus bersedia tidak dikedepankan atau diutamakan. Selain itu, penting untuk kita memiliki kasih terhadap Tuhan dan juga terhadap sesama, harus sabar, dan belajar untuk mengampuni. Meskipun kadang kala harus tegas, sebaiknya seorang pemimpin selalu belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan lambat untuk marah. Tak hanya terhadap pribadinya, seorang pemimpin juga harus bisa mengenal setiap talenta anggotanya dan juga menjadi contoh bagi anggotanya terutama dalam hal rela berkoban dalam melayani, mengelola waktu dengan baik, dan menjadi teladan dalam doa.

                Dalam menjadi seorang pemimpin yang melayani, ada juga tantangan dan hambatan yang dapat menjadi batu sandungan. Contoh-contoh tantangan serta hambatan untuk menjadi seorang pemimpin yang melayani seperti rasa sombong seperti selalu menyebutkan kata aku dan tidak ingin melibatkan orang lain, serakah baik itu dalam hal kekuasaan maupun materi, sikap sinis atau rasa tidak tahan melihat keberhasilan orang lain, terlalu sensitif, rasa malas, kejenuhan rohani, dosa seksual, dan lainnya.

Untuk menghindari hal-hal yang dapat menjadi batu sandungan, kita dapat melihat kembali cara untuk menjadi seorang pemimpin yang melayani, kita juga perlu menjaga hubungan pribadi kita dengan Tuhan melalui berdoa dan membaca firman, melalui firman Tuhan kita dapat belajar dari tokoh-tokoh di dalam alkitab. Misalnya kita dapat belajar dari tokoh Yusuf yang awalnya tidak pernah terbersit  dalam hatinya untuk menjadi orang besar, tetapi dia hanya fokus untuk melayani dengan talentanya, kemudian Tuhan yang mengangkatnya menjadi seorang pemimpin. Sebaiknya kita juga seperti itu, mulai dengan pelayanan yang dapat kita kerjakan dengan talenta yang kita miliki, dan semoga kelak Tuhan yang akan menjadikan kita seorang pemimpin bagi-Nya.



Comments