IBADAH PERSEKUTUAN BESAR 03 JULI 2021
Tema : “Unleashing the Gospel in Cultural Differences”
Pembicara : Pdt. Yohanes Dodik Iswanto
MC : Cheelsea Raturosalia (PDU'20)
Operator : Christian Sipija (PDU'20)
Pemerhati : 1. Roynald Dendang (FKG'20)
2.Yelsintha Saalino (PDU'20)
Moderator : Randi Rimpung S.Ft (Fisio'17)
Narasumber : Kak Yuda & Kak Kay
Tempat : Rumah masing-masing (via zoom)
Sebagai orang
Kristen, kita memiliki tanggung jawab untuk menjalankan misi Allah yaitu
melakukan penginjilan. Penginjilan merupakan apa yang kita lakukan untuk Allah
atau upaya kita dimana kita dipanggil Allah oleh anugerah-Nya dan
merealisasikannya dengan berbagai cara seperti melayani, berbagi atau
memberitakan karya kesemalatan. Kita perlu menyadari bahwa melakukan pekabaran
injil bagi orang Kristen ialah bukanlah suatu beban pekerjaan, melainkan suatu
kehormatan karena kita dipanggil oleh Allah untuk menjalankan amanat agung
dari-Nya.
Seringkali,
penginjilan dianggap sebagai tugas dari seorang hamba Tuhan belaka dan bukan
tugas bagi semua orang percaya tanpa terkecuali, tak hanya itu kerap kali penginjilan
dianggap hanya dapat dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. Namun, jika kita
melihat berdasarkan dasar Alkitabiah, Amanat Agung Kristus berbunyi: “Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:19-20), dari ayat ini dapat kita
simpulkan bahwa penginjilan merupakan panggilan bagi setiap umat Kristen,
bahkan disitu Tuhan Yesus mengatakan ‘semua bangsa’ yang berarti tidak dibatasi
oleh tempat manapun.
Di tengah-tengah
perbedaan budaya di dunia, tentu ada banyak pertentangan bagi setiap umat Allah
dalam menjalankan misi Allah. Persoalan hati yang terbeban untuk membawa
jiwa-jiwa yang berdosa hingga ketakutan karena kurangnya pemahaman teologi
untuk menjadi modal kadang kala menjadi tantangan saat akan mengerjakan misi
Allah. Oleh sebab itu, kita harus selalu mengingat prinsip pekabaran injil yang
adalah sebuah keharusan ilahi serta memahami kontekstualisasi bermisi yaitu:
beda orang, beda keadaan, beda pula strategi penginjilan (Yoh. 3
dan Yoh. 4).
Dalam menjalankan
penginjilan lintas budaya, strategi-strategi yang perlu kita ketahui seperti
mengenal dan belajar tempat yang akan kita tuju. Dengan mempelajari budaya,
bahasa daerah, hingga kebiasaan-kebiasaan orang yang akan kita layani, maka
kita akan lebih mudah menembus sekat-sekat perbedaan. Kita juga dapat mencari
orang kunci untuk dimuridkan, kemudian orang tersebut dapat membantu kita untuk
bergerak di dalam sukunya. Selain itu, kita perlu saling berpacu, mengingat
masih sangat banyak suku-suku yang belum mengenal Kristus sehingga jika hanya
sedikit dari kita yang berusaha menjangkau semua itu, maka untuk melayani semua
suku-suku tersebut akan memerlukan waktu yang lama.
Ada banyak hal yang
membatasi seseorang untuk menjalankan misi lintas budaya, tantangan-tantangan
dari dalam diri juga dari luar seperti rasa takut akan ketidakmampuan
beradaptasi ditengah perbedaan, merasa tidak mampu karena dosa dan
ketidaklayakan, tidak merasa terbeban untuk mengerjakan panggilan bermisi,
ambisi yang perlu dikorbankan, ketakutan akan resiko yang mungkin kita hadapi,
hingga ketakutan tidak mendapat izin dari keluarga. Semua hal itu mungkin
menjadi pergumulan yang akan ditemui ketika menjalankan misi lintas budaya,
namun penting bagi kita juga untuk mengingat bahwa disaat Tuhan memilih dan
memakai kita untuk mengerjakan panggilan-Nya, maka saat itu juga Tuhan yang akan
melengkapi dan menyempurnakan kita sehingga kita tidak boleh takut dan yang
harus kita lakukan adalah percaya kepada-Nya.




Comments