"EGKRATEIA"
Tanggal : 30 Mei 2020
Tema PB : Egkrateia
Tempat PB : Rumah Masing-Masing Via Google Meet
Pembicara
Pdt. Dr. Markus Lolo, M.ThModerator
Michael Grant H. (PDU'15)
MC
Irene Mantong (PDU'18)
Pemerhati
Deby Sepang (PDU'17)
Jennifer S. Saino (PDU'18)
RESUME:
EGKRATEIA. Apa yang terbesit
dipikiran saurada ketika mendengar kata tersebut? Ataukah kata tersebut
merupakan sebuah kata yang asing bagi telinga saudara? Ya, Egkrateia merupakan sebuah
kata yang berasal dari bahasa Yunani yang dapat diartikan sebagai kekuasaan
atas diri sendiri atau kepemilikan atas kelakuan sendiri atau yang biasa
dikenal sebagai Pengendalian Diri atau Self-Control.
Banyak orang yang mengartikan Egkrateia merupakan tindakan
yang memiliki arti kekuasaan atas diri sendiri atau mengatur urusan sendiri
secara mutlak tanpa campur tangan Tuhan (Manusia Lama) tapi arti yang sebenarnya
adalah segala sesuatu dalam hidupmu adalah milik Kristus karena kita telah
diselamatkan sehingga hidup kita mencerminkan suatu tananan baru dan kita menjadi
manusia baru milik Kristus, dimana kita dapat menerapkan self-control dengan
baik hanya jika kita menyerahkan hidup kita kedalam tangan Tuhan (Manusia Baru)
Manusia
lama atau ciptaan lama berasal dari debu tanah sehingga ciptaan itu dianggap terbatas,
lemah, rapuh, tidak memiliki kekuatan sehingga kadang dianggap sah-sah saja
jika tidak bisa melakukan self-control, dan ini merupakan opini untuk diri
sendiri atau opini atas penyataan bahwa dirinya merupakan kepunyaannya sendiri.
Sedangkan,
Manusia baru atau ciptaan baru merupakan manusia yang telah
hidup dalam Kristus sehingga ada sesuatu yang berbeda dimana kita bukan hanya
berasal dari debuh tanah tapi juga dari darah-Nya yang kudus karena Ia telah disalibkan
untuk menebus dosa-dosa kita dan kita menjadi orang yang sempurna tapi terbatas dan kita dapat menghargai
diri sendiri
Sekalipun fisik kita hidup tapi semua itu kepunyaan Kristus
dan bukan kepunyaanmu, dimana visi dan misi Kristus diletakkan dalam hidup kita
dan segala sesuatu yang diperbuat telah menyatakan kemuliaan Kristus sehingga
kita menjadi ciptaan yang dapat mengendalikan diri dengan baik dimana kita
dapat mengukurnya melalui Firman Allah yang dilakukan.
Jika dipertanyakan apa sebenarnya
musuh kita kita hadapi dalam menerapkan self-control? Banyak hal yang dapat
menyebabkan kita tidak dapat menerapkan self-control. Pertama dari Diri sendiri karena kita tidak bisa berdamai dengan
masa lalu diri sendiri atau keadaan sendiri. Kedua, terkadang orang tidak mau diperintah (dipimpin) atau
cenderung ingin menjadi pemimpin sehingga akan menimbulkan keinginan-keinganan
yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ketiga,
Kita cenderung takut melakukan sesuatu (perasaan takut lebih besar daripada
keinginan untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan). Selain itu, dalam kondisi saat ini (Pandemi) apakah kita hanya
tidur-tiduran saja? Karena disinilah Iman diuji diamana kita melakukan sesuatu
karena suatu hal yang menggelisahkan, tapi terkadang ada orang menyebut diri beriman tapi menjauhkan diri
dari peribadatan dan hal-hal untuk Tuhan)
Banyak contoh tokoh Alkitab yang
dapat di teladani dalam hal self-control karena mereka meletakkan semua hidupnya
hanya untuk Tuhan dan dalam hidup mereka hanya ada Visi dan Misi Allah,
beberapa tokoh diantaranya adalah :
1.
Abraham
merupakan seroang tokoh yang dipanggil oleh Allah ditengah kehidupannya yang
nyaman untuk mengikut Tuhan karena Ia memandang tinggi Visi dan Misi Allah
dalam hidupnya sehingga Ia keluar dari zona nyamannya dan berjalan bersama
Tuhan
2.
Yusuf adalah
salah satu tokoh yang memiliki self-control yang sangat baik, dimana Ia dapat
menolak kedagingan istri Potifar karena Ia tau itu merupakan jalan menuju
kebinasaan
3.
Daniel
merupakan salah satu tokoh yang sangat setia dan memiliki self-control yang
baik dimana Ia tetap berpegang pada Tuhan dalam keadaan apapun termasuk menolak
untuk menyembah Nebukadnezar sebagai dewa walaupun dibuang ke gua singa
4.
Paulus
. Ketika Paulus belum menegenal Allah, Dia merupakan tokoh yang sangat terkenal
akan pengikutnya, kekayaannya, dikenal sebagai seorang cendikiawan, dan banyak
hal-hal lainnya yang Ia miliki, tetapi setelah mengenal Allah, Paulus
mengenanggap semua hal tersebut adalah hal yang sia-sia, karena hal yang paing
berharga adalah ketika Dia menjadi alat bagi Allah untuk keselamatan manusia


Comments