"Christian Pass Through The Pandemic"
Tanggal : 11 April 2020
Tema PB : Christian Pass Through Pandemic
Tempat PB : Rumah Masing-Masing Via Zoom
Pembicara
Venny A. Wongso (PERKANTAS)MC
Elein Datu Seru (PDU'18)
RESUME:
Di dalam Keluaran
12, Allah sangat detail memberi peraturan kepada orang Israel melalui Musa apa
yang harus mereka lakukan saat tulah dinyatakan. Saat tulah kesepuluh hendak
dinyatakan, mereka diperintahkan untuk tinggal dalam rumah, mempersiapkan
kambing/domba yang berusia satu tahun dan harus dikhususkan selama 14 hari, dan
nantinya harus disembelih dan dibakar serta dimakan seisi rumah, kemudian darah
kambing / domba itu dipasang di pintu sebagai tanda supaya mereka terluput dari
kematian anak sulung. Peristiwa ini membuat Firaun mengizinkan orang Israel
keluar dari tanah Mesir. Bukan berarti persitiwa tulah tersebut sama dengan
wabah Covid 19 sekarang ini (konteksnya berbeda). Tetapi, kita ingin melihat
bagaimana perasaan orang Israel diluputkan dari sepuluh tulah. Mereka melihat
suatu perbuatan Allah yang besar yang membuat mereka pontang-panting, tetapi
kemudian mereka hanya tinggal diam dan tidak melakukan apa – apa tetapi Allah
mereka yang bekerja. Apa yang bisa kita lihat ialah orang Israel taat, mereka
disuruh tinggal di rumah, beribadah di rumah,
dan mereka melakukan semua itu hingga pada waktunya mereka keluar dari
Mesir.
Peristiwa lain
di Alkitab, ketika terjadi kelaparan hebat di Samaria dan kota itu dikepung
oleh orang Aram. Elisa sebenarnya telah menyatakan kepada mereka untuk tetap
menunggu, tetapi orang – orang tidak percaya termasuk Raja Israel. Kemudian, Allah
memakai orang Kusta untuk menyampaikan bahwa Allah telah membuat tentara Aram
pergi tanpa membawa makanan, pakaian sedikit pun. Akhirnya orang Israel
berbondong – bonding untuk mengambil makanan – makanan tersebut.
Dalam konteks
yang kita alami saat ini, kita percaya bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu
lebih baik karena Tuhan tidak pernah merancangkan yang tidak baik. Tetapi bukan
berarti kita bisa seenaknya keluar rumah, tidak mengindahkan peraturan
sebaliknya iman kita harus terintegrasi dengan ilmu. Mengambil sikap untuk
tetap di rumah merupakan salah satu bagian dari mengintegrasikan iman dan ilmu.
Kita perlu waspada dari pandemic ini tetapi, kita juga perlu belajar untuk
tidak terlalu khawatir. Salah satu pengajaran/khotbah Yesus di bukit ialah hal
kekuatiran, ada 4 hal yang bisa kita pelajari :
- Kenali Tuhan. Belajar untuk mengenali Allah bahwa Dia yang menyediakan, sehingga
sekalipun persoalan belum selesai, kita belajar untuk menaruh pengharapan
kepada Dia dalam menghadapai tantangan ini.
- Menempatkan
Tuhan sebagai yang utama dalam hidup. Jika
sudah menempatkan Tuhan sebagai yang utama, hal – hal mendasar seperti apa yang
hendak dipakai, dimakan, dsb tidak akan menjadi hal yang mengkhawatirkan. Kalau
hal – hal dasar sudah membuat kita khawatir maka hal – hal lain akan membuat
lebih khawatir lagi. Sebagus apapun perencanaan kita, jika tidak menempatkan
Tuhan sebagai yang utama, pasti akan tetap ada kekhawatiran.
- Jangan khawatir
akan hari esok. Kita tetap merencanakan hari
esok dan masa depan, tetapi jika energi kita habis untuk memikirkan hari esok
maka tidak ada kekuatan untuk menjalani hari ini. Belajar untuk tetap fokus
memberi yang terbaik hari ini, menyerahkan segaka sesuatunya pada Tuhan dan
tidak khawatir akan hari esok.
- Percayakan pada
Tuhan bahwa Dia yang memelihara kita. Mempercayakan
berarti menaruh di tangan Tuhan. Sikap seperti ini bisa membantu kita melewati
masa – masa sulit. Caranya dengan ingat pada janji – janji Allah. Tidak semua
hal buruk merupakan hukuman dari Allah, dan tidak semua hal baik adalah berkat
dari Allah. Sekalipun kita harus ditimpa bencana, kita harus tetap percaya
bahwa Tuhan sudah melewatkan kita dari kematian yang kekal, karena barangsiapa
yang percaya pada Yesus Kristus, dia pasti diselamatkan.
Setiap kita
diberikan akal budi untuk bisa melakukan
hal – hal aplikatif di tengah pandemi ini sesuai dengan ilmu kita yang
diintegrasikan dengan iman kita. Mari tetap berdoa, melakukan pekerjaan, dan beribadah meskipun dengan cara yang
berbeda.



Comments