IBADAH PB
" Kemerdekaan yang Sejati "


Tanggal : 17 Agustus 2019

Tema PB : Kemerdekaan yang Sejati

Tempat PB : Gasebo Samping Gedung Registrasi

Pembicara
Pdt. Robert Sokoy

MC
Triantaglecia Rantebalik (FKG' 17)

Singers
Indah Permata (PSIK’ 18)
Mitchell Alan Mangiwa (PDU’ 18)
Septriani Titin (PSIK' 15)
Jennifer Sierra Saino (PDU' 18)

Pemusik
- Gitaris 
  Melkisedek J.D. (PSKH'17) & Tamara Gabriella (PDU'18)
- Cajonis
   Anugrah Pratama (PDU'18)


Pemerhati
Milleni P. T (PDU'18)
Elein Datu Seru (PDU'18)
Inesia Ayudit (PSIK'18)
Geofray Boby T. (PDU'18)




" Kemerdekaan yang Sejati "

        

          Saat ini kita sedang dalam nuansa mengenang hari kemerdekaan kita. 17 Agustus, itulah harinya ketika Negara kita Indonesia mengumandangkan kemerdekaan dan menyatakan bebas dari pada penjajahan saat itu. Namun, apakah Negara kita sungguh telah merdeka ? Apakah seluruh masyarakat Negara Indonesia sudah hidup dalam aman dan sejahtera? Hal ini juga berlaku bagi setiap kita sudah mengetahui makna dari kemerdekaan sejati itu? Apakah hanya sebatas terlepas dari dosa ? Atau apakah hanya sebatas kita telah ditebus oleh Darah Anak Domba ? Tidak demikian. Kita sebagai umat Kristiani hingga saat ini masih terkekang oleh dosa kita yang menjauhkan kita dari Tuhan, membuat kita terkekang dan bahkan ada yang diantara kita dikuasai oleh dosa. Sudahkah kita menerima kemerdekaan itu?
         Kemerdekaan yang sejati hanyalah berasal dari pada Tuhan sebab Dialah yang membebaskan dan menyelamatkan kita. Tidak hanya itu, Dialah jalan untuk kita bisa kembali kepada Allah yang merupakan satu-satunya jalan yang hidup.Dalam kehidupan bernegara kita, sering kali kita yang seharusnya menjadi teladan dalam hidup bermasyarakat. Seperti halnya tokoh-tokoh perjuangan Urip Sumoharjo, W.R. Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya” atau bahkan tokoh yang sangat kita kenal dalam Alkitab, Nehemia yang berjuang demi bangsa Israel yang dititipkan oleh Allah. Mereka tidak mudah menjalani panggilannya dalam berdampak bagi bangsa.
Tidak dianggap, dicela, dihina, dijauhi bahkan sebagai kaum yang minoritas saat ini menjadikan kita sulit bahkan tidak memiliki keberanian dalam menerima panggilan Tuhan untuk berdampak bagi bangsa kita. Perasan takut, kuatir atau bahkan kebiasaan buruk dari kita sendiri, terkadang tidak kita sadari menjadi penghambat untuk kita mengibarkan panji iman kita.
         Siapakah kita, yang sebenarnya tidak layak bagi Tuhan untuk bangsa kita ini ? Apakah tujuan Tuhan memanggil kita ? Tuhan mau kita untuk bisa kembali kedalam hadirat-Nya dan selalu mencari Dia. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan tetapi Tuhan mau kita memegang suatu komitmen untuk setia kepada-Nya, mengibarkan dampak kita sebagai umat Kristiani bagi negara kita, Indonesia.

Comments