IBADAH PB 
MISI LINTAS BUDAYA :

" Bedah Film : End Of The Spear  "



Tanggal : 06 April 2019

Tema PB : Bedah Film " End Of The Spear "

Tempat PB : Jl. Dirgantara No. 37 (Sekretariat PMK FK - FKG UNHAS)

Pelayan

MC
Desrianti Tarra (FISIOTERAPI' 15)

Singers
Mersi Samba Bura (PSIK’ 15)
Restu Karaeng (PSIK’ 15)
Vinensia Veren Mantouw (PSIK' 15)

Pemusik
- Gitaris 
   Junita Timang (PDU'14)
   William Chandra Papendang (PDU'16)
- Cajonis
   Winny Karaeng  (FISIOTERAPI'17)



Pemerhati
Ruth Melda Patandean (PSIK'15)
Evitha Petsea T. (FISIOTERAPI'15)





MISI LINTAS BUDAYA :

BEDAH FILM
" END OF THE SPEAR "
       

        Misi lintas budaya adalah suatu cara untuk mejangkau dan membagikan karya keselamatan bagi orang-orang atau suku-suku yang belum mengenal kristus atau suku-suku yang terabaikan agar kita sama-sama menerima injil. 
        Misi lintas budaya perluh dilakukan agar orang-orang yang belum mengenal kebenaran atau belum mengenal kasih juga dapat percaya dan mereka juga dapat menjalin hubungan yang akrab dengan Allah. Kita sebagai anak-anak Allah yang telah menerima kabar keselamatan wajib menyampaikan dan membagikan keselamatan yang telah kita terima secara Cuma-Cuma kepda sesama kita sebagai respon kita terhadap kasih Allah bagi kita yang harus kita bagikan kepada orang lain dan agar banyak orang-orang yang mengikut Tuhan, percaya dan diselamatkan.
 
        Misi lintas budaya bukan hanya bisa dilakukan oleh misionaris yang benar-benar sudah memberikan dirinya untuk bertugas melayani suku-suku.kita sebagai mahasiswapun bisa mengerjakan misi Allah ini dalam kehidupan kita. Banyak hal sederhana namun sangat bermakna yang dapat kita kerjakan mulai dari sekarang seperti: Mendoakan suku bangsa atau orang-orang yang belum mengnal Kristus, Mulai dengan mengasihi orang-orang disekitar kita, Membangun relasi dengan orang-orang yang yang dilayani misalnya dokter ke pasien Bermisi dalam setiap langkah hidup kita, misalnya di kampus, dalam profesi, dalam pelayanan lain,  Berlatih, menguji motivasi,  bersekutu bersama, danSaling mengingatkan visi.

        Dalam mengerjakan hal ini tentu banyak tantangan yang dapat kita hadapi seperti adanya rasa tidak percaya atau kecurigaan dari orang-orang yang kita layani, adanya perbedaan pandangan atau nilai-nilai, adanya misunderstanding, adanya ketakutan karena perbedaan bahasa. Sebagai manusia biasa kita tentu mempunyai kekuatiran, namun kita juga harus percaya bahwa dalam megerjakan pekerjaan Tuhan pasti akan ada jalan yang Tuhan tunjukan dan  bukakan bagi kita.

        Beberapa orang dan  kalangan  menganggap bahwa misi lintas budaya dapat merusak keberagaman budayanamun, misi lintas budaya sama sekali tidak menusak keberagaman dan justru misi lintas budaya ini sangat toleran dan belajar perbedaan orang lain, memberitahu yang baik tanpa memaksakan.

          Film End of the spear adalah sebuah Film yang  menceritakan tentang kehidupan beberapa misionaris yang sungguh mencintai Tuhan melebihi hidup. Dimana ada Seorang lelaki muda yang bernama Nate Saint memilki keinginan untuk memberitakan injil kepada suku primitif yaitu suku Waodani yang tinggal di hutan Amazon. Nate mempunyai seorang anak lelaki yang kira-kira masih berumur 7tahun kala itu, ia bernama Steve Saint.  Sebelum turun langsung menjangkau suku waodani, Nate bersama kawan-kawannya berusaha membanguk kepercayaan dengan suku tersebut dengan mengirimkan barang-barang kepada mereka melalui pesawat kecinnya yang ia terbangkan sendiri. Setelah  Nate  menganggap bahwa suku tersebut percaya kepada mereka,  Nate  dan teman-temannya memutuskan untuk turun langsung ke suku tersebut. Bukannya mereka diterima namun mereka semua dibunuh oleh suku  Waodani . Hal ini sangat menimbulkan duka bagi keluara  Nate  dan keluarga kawan-kawannya. Namun, keluarga yang ditinggalkan anak dan istri mereka tidak menyimpan dendam bagi suku Waodani  mereka malah mengambil keputusan untuk turun langsung menjangkau suku  Waodani  yang telah membunuh  keluarganya karena mereka percaya bahwa suku tersebut tidak akan membunuh wanita dan anak-anak. Istri  Nate dan anaknya yang bernama Steven menjangkau suku Waodani tanpa mengingat keslahan mereka yang telah membunuh keluarga mereka. 
 
          Disini terbukti bahwa Ketika kasih itu berbicara, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Selanjutnya, di tahun 1995 Steve menjalani kehidupan bersama dengan pembunuh ayahnya itu, mereka ada bersama-sama dalam satu pelayanan, hingga kini mereka terus melakukan kesaksian dengan perbuatan kasih kepada orang-orang, masyarakat suku pedalaman Waodani dan sekitarnya.

Comments