RENUNGAN
Kali ini Nafiri Crew mendapat kiriman berupa renungan dari Kak John Pampang Allo' (PSKH' 11). Semoga menjadi berkat bagi PMKerz 😇
BLAMELESS
" Sebab itu, saudara-saudaraku yang
kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu
kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di
hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia "
(II Petrus 3:14)
Bagaimana kabarnya setelah berada di bulan kedua
ditahun 2019? Bagaimana pencapaian-pencapaian kita sejauh ini? Sebulan di tahun
2019, apa perubahan kita dibandingkan dengan tahun 2018? Bagaimana dengan
resolusi yang telah kita susun di awal tahun? Apa resolusi itu membuat kita
berubah atau justru hanya menjadi sekedar catatan di awal tahun? Resolusi yang
telah kita susun tidak menjadikan kita lebih baik? Kita ternyata masih bergumul
dengan kekurangan-kekurangan yang sama di tahun lalu. Manajemen waktu yang
masih buruk, emosi yang masih tak terkendali, pengelolalaan keuangan yang masih
amburadul, disiplin rohani tidak sungguh-sungguh kita kerjakan, apakah
teman-teman mengalami semua itu? Kalau mengalami hal itu, teman-teman tidak
sendiri, ada banyak orang yang mengalami hal yang sama, penulis juga mengalami
hal itu. Menulis resolusi di awal tahun namun ternyata tidak membawa perubahan
dalam kehidupan kita. Apakah ada yang salah dengan resolusi yang kita buat
sehingga kita tak kunjung berubah?
Menuliskan resolusi merupakan cara kita untuk memperbaiki
diri agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kita ingin lebih baik dalam
banyak hal sesuai yang kita harapkan atau orang lain harapkan. Tulisan Rasul
Petrus ini dapat kita renungkan bersama-sama sebelum menapaki 11 bulan lagi di
tahun 2019 ini. Konteks dari tulisan Rasul Petrus ini adalah tentang hari
kedatangan Tuhan yang kedua di mana sebagai orang Kristen kita harus mempersiapkan diri. Tujuannya adalah ketika hari itu
tiba, Kristen kedapatan tidak bercacat dan tidak bernoda di hadapan-Nya. Apakah teman-teman bisa melihat hubungan
keduanya? Resolusi kita berharap untuk memperbaiki
diri sedangkan Rasul Petrus mengharapkan kita untuk mempersiapkan diri bagi kekekalan. Surat Rasul Petrus mengajak kita untuk tidak sekedar memperbaiki
diri tetapi melihat lebih jauh ke depan bahwa kita mempersiapkan diri untuk
kedatangan Tuhan. Petrus menggunakan kata
“tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya” pada ayat 13 untuk kita dapat
mempersiapkan diri. Dalam maksud lain, kejarlah kekudusan dan juga perdamaian
bahkan sampai tidak bercela dan sempurna. Kita mengejar kemurnian yang tak
bercela dan kesempurnaan mutlak. Kristen harus menyempurnakan kekudusan supaya
mereka tidak bercela bukan hanya di hadapan manusia, melainkan juga di hadapan
Allah. Hal ini juga menjadi pembeda antara resolusi dan isi surat Rasul Petrus,
resolusi menjadikan kita baik di menurut ukuran manusia tetapi surat Rasul
Petrus mengingatkan kita untuk berkenan di hadapan manusia tetapi juga di
hadapan Allah. Bagaimana caranya menerapkan prinsip ini? Caranya adalah
mengubah orientasi kita, pandangan kita, atau tolak ukur kita. Kita harus
mengukurnya berdasarkan ...”tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya”. Ukurannya adalah ukuran Allah bukan ukuran
manusia, karenanya fokus kita adalah pada kehendakNya. Semoga Tuhan memampukan kita menerapkan
prinsip ini dalam mengerjakan atau mungkin
menata ulang resolusi kita sepanjang tahun ini.
Bagaimana kabarnya setelah berada di bulan kedua
ditahun 2019? Bagaimana pencapaian-pencapaian kita sejauh ini? Sebulan di tahun
2019, apa perubahan kita dibandingkan dengan tahun 2018? Bagaimana dengan
resolusi yang telah kita susun di awal tahun? Apa resolusi itu membuat kita
berubah atau justru hanya menjadi sekedar catatan di awal tahun? Resolusi yang
telah kita susun tidak menjadikan kita lebih baik? Kita ternyata masih bergumul
dengan kekurangan-kekurangan yang sama di tahun lalu. Manajemen waktu yang
masih buruk, emosi yang masih tak terkendali, pengelolalaan keuangan yang masih
amburadul, disiplin rohani tidak sungguh-sungguh kita kerjakan, apakah
teman-teman mengalami semua itu? Kalau mengalami hal itu, teman-teman tidak
sendiri, ada banyak orang yang mengalami hal yang sama, penulis juga mengalami
hal itu. Menulis resolusi di awal tahun namun ternyata tidak membawa perubahan
dalam kehidupan kita. Apakah ada yang salah dengan resolusi yang kita buat
sehingga kita tak kunjung berubah?
Menuliskan resolusi merupakan cara kita untuk memperbaiki
diri agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kita ingin lebih baik dalam
banyak hal sesuai yang kita harapkan atau orang lain harapkan. Tulisan Rasul
Petrus ini dapat kita renungkan bersama-sama sebelum menapaki 11 bulan lagi di
tahun 2019 ini. Konteks dari tulisan Rasul Petrus ini adalah tentang hari
kedatangan Tuhan yang kedua di mana sebagai orang Kristen kita harus mempersiapkan diri. Tujuannya adalah ketika hari itu
tiba, Kristen kedapatan tidak bercacat dan tidak bernoda di hadapan-Nya. Apakah teman-teman bisa melihat hubungan
keduanya? Resolusi kita berharap untuk memperbaiki
diri sedangkan Rasul Petrus mengharapkan kita untuk mempersiapkan diri bagi kekekalan. Surat Rasul Petrus mengajak kita untuk tidak sekedar memperbaiki
diri tetapi melihat lebih jauh ke depan bahwa kita mempersiapkan diri untuk
kedatangan Tuhan. Petrus menggunakan kata
“tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya” pada ayat 13 untuk kita dapat
mempersiapkan diri. Dalam maksud lain, kejarlah kekudusan dan juga perdamaian
bahkan sampai tidak bercela dan sempurna. Kita mengejar kemurnian yang tak
bercela dan kesempurnaan mutlak. Kristen harus menyempurnakan kekudusan supaya
mereka tidak bercela bukan hanya di hadapan manusia, melainkan juga di hadapan
Allah. Hal ini juga menjadi pembeda antara resolusi dan isi surat Rasul Petrus,
resolusi menjadikan kita baik di menurut ukuran manusia tetapi surat Rasul
Petrus mengingatkan kita untuk berkenan di hadapan manusia tetapi juga di
hadapan Allah. Bagaimana caranya menerapkan prinsip ini? Caranya adalah
mengubah orientasi kita, pandangan kita, atau tolak ukur kita. Kita harus
mengukurnya berdasarkan ...”tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya”. Ukurannya adalah ukuran Allah bukan ukuran
manusia, karenanya fokus kita adalah pada kehendakNya. Semoga Tuhan memampukan kita menerapkan
prinsip ini dalam mengerjakan atau mungkin
menata ulang resolusi kita sepanjang tahun ini.

Comments