RENUNGAN
Kali ini Nafiri Crew mendapat kiriman berupa renungan dari Kak Anggun Primanta Goldamerta (FISIO' 12). Semoga menjadi berkat bagi PMKerz 😇
PILIHANMU, IMANMU
Apakah Anda baru saja memilih sesuatu? Mungkin baru saja memilih menu makanan, memilih apa yang akan dilakukan, apa yang akan di baca dsb. Setiap hari, memilih adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh seseorang. Ada yang mudah meneentukan pilihan adapula yang sulit. Apa sebenarnya dasar seseorang dalam menentukan pilihan? Apakah akan memilih yang diterima logika atau yang menyenangkan perasaan.
Bagaimana kebenaran tentang pilihan ini bagi pengikut Kristus. Sejak awal, manusia telah diberi kebebasan dalam memilih, seringkali dinamakan kehendak bebas. Namun, tidak semua orang akhirnya berhasil dalam menggunakan kehendak bebas. Adam adalah tokoh pertama dalam Alkitab yang memberi gambaran tentang kegagalan dalam memilih dan akibatnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Walaupun dilarang, hal yang membuat mereka memilih tidak taat karena mereka melihat bahwa buah itu baik. Disisi lain adapula tokoh yang berhasil dalam menggunakan kehendak bebasnya, yaitu Abraham. Ketika Abraham diminta untuk mengorbankan putranya, tentu sama sekali tidak bisa diterima oleh seorang manusia dan merupakan hal yang tentu tidak mengenakkan dihati. Abraham dapat memilih untuk tidak melakukannya tetapi Abraham memilih melakukan apa yang diminta oleh Allah. Apa yang menjadi pembeda dalam mereka memilih sebuah pilihan, yaitu dasar mereka. Dasar memilih bagi orang percaya harusnya adala iman, ketika memilih dan bukan iman dasarnya maka hal itu akan membawa kita pada pilihan-pilihan yang berakhir pada kebinasaan. Ibrani 12:2a menyatakan “ Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan ”.
Iman menuntut kita pada kebenaran dan tidak hanya sebatas terlihat baik. Kemudian apakah pilihan yang baik itu salah? Tidak, hanya saja itu tidaklah cukup. Pilihan seorang Kristen adalah pilihan yang mutlak harus benar. Yunus tokoh lain yang gagal dalam memilih, memiliki alasan bahwa penolakannya terhadap perintah Tuhan adalah kebaikan bagi dirinya dan bangsanya (Lihat kitab Yunus). Namun, pilihan Yunus tidak berdasarkan iman dan tentu saja itu tidaklah benar. Pilihan yang benar seringkali adalah pilihan yang tidak bisa diterima akal ataupun perasaan. Dunia seringkali menghadapkan kita akan pilihan yang baik atau pilihan yang benar. Maka berhati-hatilah, jangan selalu mengatakan bahwa berdosa demi kebaikan itu dibenarkan. Tuhan Yesus sejak awal berkata, kita akan dibenci karena iman kita. Kita harus terus mengupayakan hidup yang serupa dengan Kristus hingga akhir, yang selalu memilih kebenaran dengan kasih bahkan ketika itu adalah hukuman mati di kayu salib.
Bagaimana kebenaran tentang pilihan ini bagi pengikut Kristus. Sejak awal, manusia telah diberi kebebasan dalam memilih, seringkali dinamakan kehendak bebas. Namun, tidak semua orang akhirnya berhasil dalam menggunakan kehendak bebas. Adam adalah tokoh pertama dalam Alkitab yang memberi gambaran tentang kegagalan dalam memilih dan akibatnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Walaupun dilarang, hal yang membuat mereka memilih tidak taat karena mereka melihat bahwa buah itu baik. Disisi lain adapula tokoh yang berhasil dalam menggunakan kehendak bebasnya, yaitu Abraham. Ketika Abraham diminta untuk mengorbankan putranya, tentu sama sekali tidak bisa diterima oleh seorang manusia dan merupakan hal yang tentu tidak mengenakkan dihati. Abraham dapat memilih untuk tidak melakukannya tetapi Abraham memilih melakukan apa yang diminta oleh Allah. Apa yang menjadi pembeda dalam mereka memilih sebuah pilihan, yaitu dasar mereka. Dasar memilih bagi orang percaya harusnya adala iman, ketika memilih dan bukan iman dasarnya maka hal itu akan membawa kita pada pilihan-pilihan yang berakhir pada kebinasaan. Ibrani 12:2a menyatakan “ Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan ”.
Iman menuntut kita pada kebenaran dan tidak hanya sebatas terlihat baik. Kemudian apakah pilihan yang baik itu salah? Tidak, hanya saja itu tidaklah cukup. Pilihan seorang Kristen adalah pilihan yang mutlak harus benar. Yunus tokoh lain yang gagal dalam memilih, memiliki alasan bahwa penolakannya terhadap perintah Tuhan adalah kebaikan bagi dirinya dan bangsanya (Lihat kitab Yunus). Namun, pilihan Yunus tidak berdasarkan iman dan tentu saja itu tidaklah benar. Pilihan yang benar seringkali adalah pilihan yang tidak bisa diterima akal ataupun perasaan. Dunia seringkali menghadapkan kita akan pilihan yang baik atau pilihan yang benar. Maka berhati-hatilah, jangan selalu mengatakan bahwa berdosa demi kebaikan itu dibenarkan. Tuhan Yesus sejak awal berkata, kita akan dibenci karena iman kita. Kita harus terus mengupayakan hidup yang serupa dengan Kristus hingga akhir, yang selalu memilih kebenaran dengan kasih bahkan ketika itu adalah hukuman mati di kayu salib.

Comments