RENUNGAN
Kali ini Nafiri Crew mendapat kiriman berupa renungan dari Kak Kartini (FKG' 12). Semoga menjadi berkat bagi PMKerz 😇😇
MURID YANG RADIKAL
( Lukas 14 : 27 )
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat
menjadi murid-Ku’’
Ayat ini tampaknya adalah ayat
yang sangat berat untuk kita aplikasikan dalam hidup kita. Terkadang kita
berpikir ayat "memikul salib" tidak ditujukan untuk saya, ayat ini
berlaku untuk orang lain yang memang bertugas di bidang kerohanian ataupun
pemuridan. Lalu kriteria apakah sebenarnya yang menjadi patokan kita untuk
memilih ayat yang berlaku untuk diri kita dan tidak berlaku untuk diri kita ?
Saat kita membaca Yeremia 29:11 tentang janji Allah akan rancangan masa depan
yang penuh harapan atau ayat yang dibacakan Pendeta saat menumpangkan tangan
memberi berkat (bilangan 6 : 24-26) kita akan otomatis menyimpulkan bahwa ayat
ini memang diperuntukkan untuk kita. Mengapa? Karena ayat ini berisi tentang
janji dan berkat Tuhan yang akan menyenangkan hidup kita tetapi ketika kita
membaca ayat dengan perintah yang begitu sulit, suatu perintah untuk memikul
salib, menderita, mengorbankan, menyerahkan hidup, dan merendahkan hati kita
untuk dipakai menjadi alatNya kita akan berpikir mungkin ayat ini tidak untuk
saya. Bukankah semua firman Tuhan seharusnya berlaku tanpa harus kita pilah?
Kita
dipanggil untuk menjadi murid yang radikal bukan murid yang biasa saja. Kita
dituntut hidup berbeda dengan dunia, kita dituntut memiliki hati seorang hamba,
kita dituntut untuk taat terhadap panggilanNya "memikul salib". Dalam
menjalani panggilanNya, mungkin dunia sekitar kita akan berkomentar, apakah
menjawab panggilan Allah harus segitunya, mengorbankan segalanya dan kenapa
harus anda, bukankah ada orang lain? Mungkin sebaiknya kita mengubah perspektif
ini menjadi bukankah saya harusnya bisa berkorban dengan segitunya juga dan
mengapa harus orang lain jika saya pun bisa? Kita adalah hamba yang tidak punya
hak untuk menolak panggilan Allah.
Menjadi
radikal berarti perintah dan visi Allah sudah menjadi radiks dalam hidup kita.
Ketika radiks itu ada maka kita tidak lagi memandang bahwa panggilan Allah
menyebabkan kita berkorban banyak tetapi panggilan Allah adalah suatu
kehormatan yang tak ternilai harganya, sehingga apapun perintahnya kita mau
menjalaninya dengan sukacita. Mari kita menjadi murid yang radikal.
Ayat ini tampaknya adalah ayat
yang sangat berat untuk kita aplikasikan dalam hidup kita. Terkadang kita
berpikir ayat "memikul salib" tidak ditujukan untuk saya, ayat ini
berlaku untuk orang lain yang memang bertugas di bidang kerohanian ataupun
pemuridan. Lalu kriteria apakah sebenarnya yang menjadi patokan kita untuk
memilih ayat yang berlaku untuk diri kita dan tidak berlaku untuk diri kita ?
Saat kita membaca Yeremia 29:11 tentang janji Allah akan rancangan masa depan
yang penuh harapan atau ayat yang dibacakan Pendeta saat menumpangkan tangan
memberi berkat (bilangan 6 : 24-26) kita akan otomatis menyimpulkan bahwa ayat
ini memang diperuntukkan untuk kita. Mengapa? Karena ayat ini berisi tentang
janji dan berkat Tuhan yang akan menyenangkan hidup kita tetapi ketika kita
membaca ayat dengan perintah yang begitu sulit, suatu perintah untuk memikul
salib, menderita, mengorbankan, menyerahkan hidup, dan merendahkan hati kita
untuk dipakai menjadi alatNya kita akan berpikir mungkin ayat ini tidak untuk
saya. Bukankah semua firman Tuhan seharusnya berlaku tanpa harus kita pilah?
Kita
dipanggil untuk menjadi murid yang radikal bukan murid yang biasa saja. Kita
dituntut hidup berbeda dengan dunia, kita dituntut memiliki hati seorang hamba,
kita dituntut untuk taat terhadap panggilanNya "memikul salib". Dalam
menjalani panggilanNya, mungkin dunia sekitar kita akan berkomentar, apakah
menjawab panggilan Allah harus segitunya, mengorbankan segalanya dan kenapa
harus anda, bukankah ada orang lain? Mungkin sebaiknya kita mengubah perspektif
ini menjadi bukankah saya harusnya bisa berkorban dengan segitunya juga dan
mengapa harus orang lain jika saya pun bisa? Kita adalah hamba yang tidak punya
hak untuk menolak panggilan Allah.
Menjadi
radikal berarti perintah dan visi Allah sudah menjadi radiks dalam hidup kita.
Ketika radiks itu ada maka kita tidak lagi memandang bahwa panggilan Allah
menyebabkan kita berkorban banyak tetapi panggilan Allah adalah suatu
kehormatan yang tak ternilai harganya, sehingga apapun perintahnya kita mau
menjalaninya dengan sukacita. Mari kita menjadi murid yang radikal.

Comments