Ibadah PB Bedah Film : Courageous
Tanggal : 09 Juni 2018
Pembicara : Pdt. Bartholomeus Padatu
Tempat PB : Jl. Angsa No.17 (tuan rumah kak Hansen FKG'05)
MC : Gracia Inriya (PDU'15)
Singers : Dion Kavin L. (PDU'15), Indang A. (FKG'16) & Natalya T. Padang (Fisio'16)
Pemusik
- Cajonis : William Chandra P. (PDU'16)
- Gitaris : Melkisedek (PSKH'17) & Randi Rimpung (Fisio'17)
- Keyboardis :
Pendamping MC:
Pendamping Pemusik: Herista Tanga' (PDU'13)
Pemerhati : Markus Stevens (PSKH'17) & Novatasya Hisama M. (Psikologi'17)
A. Resume
Film selalu mengandung dua hal; pertama aspek hiburan. Kedua, aspek edukasi.
Sebuah film yang baik mengandung perpaduan unsur tersebut sama kuatnya. Tulisan
kali Ini diinspirasi sebuah film yang dengan sengaja kami tonton dan bedah
muatan edukatifnya. Sebuah film berjudul "COURAGEOUS" bertema
kehidupan keluarga. Film ini mengambil dua setting utama; kehidupan rumah
tangga dan pekerjaan. Poin-poin penting apa saja yang dapat Kita pelajari dari
film COURAGEOUS, khususnya terhadap peran dan relasi bapak dan anak.
Pertama, film tersebut menekankan arah atau sumber datangnya
sebuah masalah dalam keluarga. Ketika bapak tidak "hadir" di dalam
rumah, "kelemahan"
menghadirkan diri. Seorang anak rusak di dalam rumah terlebih dahulu, kemudian mendapatkan penguatan secara negatif
di luar rumah. Selama ini, orang-orang di rumah terjebak dalam permainan
salah-salahan. Senantiasa meyakini bahwa prilaku rusak anak bermula dari pengaruh
lingkungan luar rumah. Seolah mengatakan bahwa kendali pengaruh orang di rumah
jauh di bawah kendali lingkungan luar rumah. Padahal Kita mengetahui dengan
pasti, bahwa anak tumbuh dalam kendali penuh orang tua sejak lahir dan akan
senantiasa demikian. Bagi anak yang terdidik dengan baik di dalam rumah, rasa
cinta pada rumah (home sick) tertanam kuat dalam alam bawah sadarnya.
Kedua, film COURAGEOUS menyorong satu dimensi pembelajaran
seputar variasi masalah yang sangat majemuk dalam keluarga. Dalam kehidupan
sehari-hari, Kita menyadari bahwa sebuah rumah tidak kebal dengan masalah.
Dapat dikatakan bahwa setiap rumah tangga selalu memiliki "masalah
kompleks". Semakin banyak jumlah keluarga,
semakin berlipatganda masalah. Setiap individu dalam kelompok usia
berbeda dan kelompok tanggungjawab memiliki masalahnya masing-masing. Orang tua
dengan masalahnya masing-masing-masing dan anak-anak dengan masalahnya
sendiri-sendiri.
Setiap keluarga memiliki krisisnya masing-masing. Krisis
inilah yang menjadikan sebuah keluarga secara terus menerus dirundung
pergulatan untuk menyelesaikan masalah demi masalah. Terkadang sebuah masalah
mudah diurai, dan tidak membutuhkan waktu lama menyelesaikannya. Akan tetapi
ada juga masalah yang terus menerus tak kunjung
mampu diselesaikan. Hasilnya keluarga tersebut berada dalam tekanan atau
krisis berkepanjangan. Krisis inilah yang kemudian dikeluhkan bukan saja kepada
sesama rekan yang berkeluarga, tetapi juga kepada Tuhan, Tidak jarang sebuah
keluarga mempertanyakan mengapa masalah tersebut terus menerus ada dalam
kehidupan mereka, seolah tidak ingin membiarkan mereka berbahagia.
Penting diketahui bahwa adanya krisis dalam kehidupan tidak
berarti Allah absen memberkati sebuah keluarga, terlebih kepada keluarga yang
tekun mencariNya. Krisis, dalam kehidupan sesungguhnya menjadi bagian yang
diijinkan hadir mendefinikan kehidupan sebuah keluarga. Allah mengijinkan
sebuah krisis untuk mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan dengan lebih
berlandaskan pada pengetahuan, pengertian dan hikmat dariNya. Krisis juga
hendak dipakai mengajarkan ambang batas kemampuan manusia mengelola sebuah
masalah. Karena itu, manusia mendorong dirinya mencari pertolongan.
Potret krisis anggota keluarga, umumnya dialami dalam relasi
antara orang tua dan anak. Khususnya krisis hubungan antara bapak dan anak.
Dalam film COURAGEOUS digambarkan kepada Kita bagaimana rupa krisis yang
dialami seorang anak. Umumnya krisis yang dialami Sang anak lebih dikarenakan
absennya perhatian bapak kepada perkembangan anak. Pada satu pihak Sang bapak
menginginkan anak-anak mengerti posisinya, tanggungjawab memberi penghidupan
dengan terpaksa kehilangan waktu memahami apa yang sedang dirasakan, dipikirkan
dan dikerjakan anak.
Terhadap hal tersebut, setiap bapak hendaknya memahami bahwa
anak memiliki jangkauan berpikir yang
sangat terbatas pada dunianya, pada pemenuhan kebutuhan hariannya, juga kepentingan impian masa depannya. Belum
memiliki kemampuan menilai sesuatu melampaui kepentingan dirinya. Jangan heran
jika kemampuan memahami dinamika masalah Sang bapak belum tumbuh dengan baik
hingga Ia mengalami sendiri apa artinya menjadi orang tua bagi anak-anak
mereka. Kalau dirumuskan bagaimana sejatinya tuntutan perhatian yang perlu
diberikan kepada anak, maka hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: EB < EA (EB= Ego bapak harus lebih kecil
dari EA=Ego anak). Bagaimanapun juga dimensi kejiwaan anak sedang mencari
format kediriannya (jati diri).
Kalaupun seorang anak memberi perhatian lebih pada diri
bapak, biasanya mereka sedang mencari, menilai prilaku orang tua/bapak mereka
untuk diteladani. Anak yang terdorong memberi waktu memperhatikan prilaku orang
tua biasanya telah lebih dahulu mengagumi mereka dan membangun kesadaran untuk
menjadi seperti orang tua mereka. Jika model keteladanan tersebut tidak
dijumpai dalam rumahnya, maka mulailah Ia melakukan petualangan pencaharian
figur idola untuk diteladani.Setiap Anak yang tidak memperoleh
"keluarga" dalam rumahnya, akan pergi mencari "keluarganya"
di luar rumahnya.
Dalam kondisi krisis keteladanan orang tua inilah orang tua
akan kehilangan dimensi penghormatan atau kepatuhan dari anak-anak mereka.
Seorang Anak berpotensi kehilangan rasa hormat kepada orang tua yang lebih
dahulu menunjukkan sikap tidak hormat pada dirinya sendiri, Seorang anak
membutuhkan figur seorang yang dapat mengajarkan kepada mereka bagaimana
menjadi anak-anak kecil yang berbahagia, menjadi remaja yang kreatif, menjadi
pemuda inovatif dan tangguh menghadapi berbagai tantangan yang mulai mereka
sadari sebagai bagian dari kehidupannya. Mereka membutuhkan seorang guru atau
pengajar yang mengajarkan RAHASIA menjadi HEBAT dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka membutuhkan pelajaran yang sederhana yang dapat merangkum semua
pembelajaran.
Di setiap rumah perlu da setidaknya satu orang guru, dua orang lebih baik, untuk mengajarkan pelajaran utama. Pelajaran
tersebut tadalah pelajaran tentang TUHAN. Pelajaran ini lebih bermisi dari
semua pelajaran yang tidak berkaitan langsung denganNya. Pelajaran tentang
TUHAN inilah yang sesungguhnya mereka butuhkan, sekalipun banyak hal yang belum
mereka pahami tentang siapa TUHAN itu. Seorang bapak perlu menunjukkan atau
mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa sekalipun mereka adalah bapa mereka,
tapi mereka memiliki BAPA di SORGA yang kepadaNya semua keluarga perlu
menghormatiNya.
Seorang bapak perlu mengajarkan bahwa, Ia selalu membutuhkan
pertolongan dari "Bapa di sorga". Karena itu Kita Berdoa, "Bapa
Kami Di sorga". Anak-anak perlu mengetahui bahwa bapa merekapun
membutuhkan figur penolong yang kuat. Hal ini mengajarkan pada mereka untuk
menyadari bahwa kekuatan orang tua mereka TURUN DARI SORGA.
Kepada anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap harinya jutaan
bapak atau orang tua keluar dari umahnya,
bekerja, atau berebut pekerjaan dengan sesama "bapak" untuk
memastikan ada sesuatu yang dibawa pulang untuk orang-orang yang dirumah. Orang
tua senantiasa berjuang dengan mengerahkan semua kemampuannya untuk
menghasilkan sesuatu untuk "dimakan" atau "digunakan".
Terkadang mereka "saling sikut" bahkan dalam beberapa kasus harus
berkonflik untuk "membela" keperluan hidup keluarga. Satu, dua
diantara mereka harus "mengakhiri kehidupan" atau "diakhiri
kehidupannya" hanya karena berebut sumber daya hidup yang terbatas.
Figur Sang Bapak dalam kehidupan keluarga memiliki banyak
kisah yang perlu diceritakan dan didengar anak-anak dalam masa pertumbuhan
mereka hingga lepas status sebagai "anak manja" menjadi seorang bapa
yang akan memberikan "kemanjaan" pada anak-anak mereka. Ada banyak
kisah atau pengalaman orang tua yang dapat disampaikan kepada anak-anak mereka.
Kisah yang paling indah yang Kita dengar dari orang tua adalah pengalamannya
berjalan bersama dengan Tuhan. Seorang yang berjalan bersama Tuhan dalam
pekerjaanNya akan merasakan sukacita yang tidak ada bandingnya. Pengalaman
berjalan bersama TUHAN ini adalah warisan mutiara kehidupan yang akan
membingkai cara hidup mereka nantinya.
Setiap bapak/ibu perlu tahu bahwa mereka tidak menafkahi
keluarga dengan harta benda, tapi dari
"berkat" Tuhan. Karena itu setiap hari perlu memastikan bahwa mereka
menerima berkat dari Tuhan. Tuhan Ingin memberkati anak-anak Kita melalui
berkat yang diberikanNya kepada Kita selaku orang tua. Dengan menerima berkat
dariNya, sebuah keluarga akan senantiasa memutuskan berjalan dalam jalan berkat
dan bukan jalan lainnya.
Di samping kisah-kisah tersebut, seorang bapak membutuhkan
Alkitab untuk mengajari keluarga bagaimana merancangkan, membangun keluarga
yang baik. Tidak Ada manual panduan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini
tentang bagaimana menjalani kehidupan berkualitas, tepat sasaran. Firman Allah
adalah KITAB HIDUP BERKEMENANGAN !
Perlu diketahui setiap bapak/ibu memiliki waktu singkat
untuk menanamkan pengaruh, Bahkan harus berebut pengaruh dari segala sumber
pengaruh yang dapat menjangkau pikiran anak-anak. Pengaruh terbaik selalu
datang dari lingkar atau "orang dalam". Gagal menanamkan pengaruh
yang baik dalam keluarga sama artinya memberi jalan lebar serbuan pengaruh dari
luar rumah. Pengaruh negatif di luar rumah seperti singa mengaum yang siap
memangsa anak-anak Kita.
Sebuah keluarga,
seringkali mudah terluka dalam kehidupannya dan sukar sembuh. Karena itu
keluarga membutuhkan Tuhan. Sebuah keluarga yang kuat adalah keluarga yang
terikat dengan keberadaan Tuhan. Sebuah keluarga yang di dalam kehidupannya
tidak didasarkan pada hubungan dengan TUHAN adalah keluarga RAPUH. Mudah goyah
ketika digoncang dengan masalah kehidupan.
Akhirnya, dalam plot akhir film COURAGEOUS dapat disimpulkan
bahwa setiap bapak, keluarga perlu belajar KUAT di dalam TUHAN. Keteguhan
berarti menerima dengan IMAN ROH yang dikaruniakanNya untuk membimbing
melintasi padang gurun kehidupan. Setiap bapak perlu menjadikan dirinya cermin
bagi anak-anak melihat karakter TUHAN dalam dirinya. Jika hendak disimpulkan
dalam pernyataan sederhana, maka pengertian bersikap teguh adalah tidak
menyimpang ke kanan atau ke Kiri. Berjalanlah di jalan berkatNya. Inilah jenis
jalan yang akan menghantar Kita menerima semua yang Kita butuhkan dalam kehidupan
Keluarga Kita.
B. Pelantikan Panitia MBA 2018 dan PJS KSB Pengurus 2017/2018
Di Ibadah PB kali ini, teman-teman yang sudah mengomitmenkan diri mereka untuk melayani dalam kepanitiaan MBA 2018 dan PJS KSB Pengurus 2017/2018 telah dilantik loh, berikut Susunan Kepanitaannya
Panitia MBA 2018
Ketua : Novita Hasmianti (FKG'16)
Sekretaris : Natasya C. Mendeng (Fisio'16)
Bendahara : Millia Biang (Fisio'16)
Seksi Acara :
Trianta Glecia (FKG'17) - Koordinator
Eldwin T. (PDU'17)
Angie (Psikologi'17)
Desak Putu A. (FKG'17)
Adrian Hosea (PDU'17)
Eldwin T. (PDU'17)
Angie (Psikologi'17)
Desak Putu A. (FKG'17)
Adrian Hosea (PDU'17)
Seksi Doa dan Konsumsi (DOKONS) :
Taneth F. J (Psikologi'16) - Koordinator
Randi Rimpung (Fisio'17)
Catheria S. (PDU'17)
Sophia (Psikologi'17)
Randi Rimpung (Fisio'17)
Catheria S. (PDU'17)
Sophia (Psikologi'17)
Seksi Dana dan Usaha (Danus) :
Argatria M. (PDU'17) - Koordinator
Novatasya Hisami M. (Psikologi'17)
Sheline Dian (PDU'16)
Winny K. (Fisio'17)
Anastasya E. S. (PDU'17)
Kezia F. P (PDU'17)
Novatasya Hisami M. (Psikologi'17)
Sheline Dian (PDU'16)
Winny K. (Fisio'17)
Anastasya E. S. (PDU'17)
Kezia F. P (PDU'17)
Seksi Perlengkapan dan Dokumentasi :
Imanuel Jason Edwarnov S. (Psikologi'16) - Koordinator
Tirton (Fisio'16)
Michelson (Psikologi'16)
Yandra (FKG'17)
Jenisa Rantelabi' (FKG'17)
Indang A. (FKG'17)
Tirton (Fisio'16)
Michelson (Psikologi'16)
Yandra (FKG'17)
Jenisa Rantelabi' (FKG'17)
Indang A. (FKG'17)
Pendamping :
Chatrin Phany P. (Fisio'14)
Dwiyana Tulak (PSIK'13)
Dwiyana Tulak (PSIK'13)
Grace Aprilia C. (FKG'13)
Nelce Kurianti L. (FKG'14)
PJS KSB Pengurus 2017/2018
Ketua : Christopel T. (PSKH'16)
Sekretaris : William Chandra P. (PDU'16)
Bendahara : Apridey P. (FKG'16)


Comments