Ibadah PB " Put God First "

Tanggal : 27 Januari 2018

Tema PB : Put God First

Pembicara : Kak Venny Wongso

Tempat PB : Jl. Satelit II No. 35, Telkomas (Rumah Helga PDU’17)

Pelayan

MC : Millia Biang Fisio’16

Singers : Apridey Rante Parinding FKG’16
               Michelle Anastasia Pasambe FKG’17
               Kezia Renata Kabi FKG’17

Pemusik
- Gitaris : Junita Timang PDU’14 dan Novita Hasmianti FKG’16

Pemerhati : Anugra Tenri Jager Tolande’ PDU’16 dan Vinensia Veren Mantouw PSIK’15






Put God First   
(Lukas 10:38-42 à Maria dan Marta )
Banyak orang saat ini lebih mengutamakan mengejar apa yang menjadi ambisi dan keinginan diri mereka, dan hal itu dijadikan sebagai prioritas hidup yang utama yang harus mereka capai. Namun, tanpa disadari, hal itulah yang  menyebabkan begitu banyak orang kemudian salah dalam menentukan prioritas hidup yang tepat.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita cari ? Apa yang sedang kita kejar ? Dan apa yang sedang kita prioritaskan untuk kehidupan kita ? Sudahkah kita tahu arti dari prioritas itu ? Mengapa perlu mengandalkan Tuhan dalam menentukan prioritas hidup kita ? Perlukah kita memiliki prioritas dalam hidup ? Hal ini penting untuk kita periksa, supaya arah langkah kehidupan kita memiliki tujuan yang benar.

Sebagai orang percaya, kita harus mampu menentukan dengan benar, apa yang menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Sehingga tidak ada penyesalan yang kita temui di kemudian hari.
Bicara tentang prioritas menunjuk kepada suatu sikap hidup yang bisa mengutamakan yang terpenting di antara yang penting. Dalam kehidupa kita, kita sering diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang mudah membuat kita kehilangan fokus hidup kita. Untuk itu kita perlu terlebih dahulu tahu apa sesungguhnya yang menjadi fokus kehidupan kita, sehingga kita tidak mudah goyah oleh apapun juga.

Dalam pembacaan lukas 10:38-40, yang menceritakan kisah Maria dan Marta, ketika Tuhan Yesus mendatangi rumah mereka. Kita bisa membayangkan bahwa Tuhan Yesus mampir di tengah perjalanannya ke rumah Maria dan Marta, hal seperti itu tentu membuat mereka sangat bersukacita untuk menyambut-Nya. Sama seperti kita ketika menyambut tamu penting, maka mereka tentu ingin mempersiapkan segala sesuatu bagi Yesus, begitulah kira-kira yang dilakukan Marta. Sebagai tuan rumah, ia ingin menyediakan banyak hal untuk tamunya.

Namun, sementara Marta mempersiapkan jamuan dengan susah payah di dapur, saudaranya, Maria, justru hanya duduk dan mendengarkan apa yang Yesus katakan. Sebagai catatan, adalah hal yang normal bagi perempuan untuk berada di dapur ketika seseorang datang ke rumahnya pada masa itu. Sikap Maria untuk duduk mendengarkan di dekat kaki Yesus adalah hal yang istimewa, tidak banyak perempuan yang duduk ketika seorang tamu datang ke rumahnya.

Hal inilah yang kemudian membuat kesal Marta sehingga ia kemudian menegur Maria di depan Yesus dengan harapan bahwa Yesus akan menyuruh Maria membantunya di dapur, seperti kebiasaan orang Yahudi pada umumnya. Marta berkata pada ayatnya yang ke-40, “ Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri ? Suruhlah dia membantu aku. “
Tetapi apa yang terjadi, kita bisa melihat pada ayatnya yang ke-41 dan 42. “Tetapi Tuhan menjawabnya : Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Yesus tidak melakukan seperti yang diharapkan Marta, tetapi dengan penuh kasih Ia memberi teguran kepada Marta. Bukan karena dia sibuk mempersiapkan makanan, melainkan karena dia meminta Yesus untuk menegur Maria. Dalam hikmat-Nya Yesus mengatakan bahwa dari banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyambut Yesus, Maria memilih bagian yang tidak bisa diambil darinya. Yesus menolak secara halus dan mengatakan bahwa Maria juga telah memilih bagian yang baik, bahkan yang terbaik di antara keduanya.

Biasanya kita cenderung terlalu menyibukkan diri dengan berbagai pelayanan yang ada. Di mana-mana ikut pelayanan, setiap ada kegiatan selalu aktif melayani. Padahal sering kita tidak menyadari, ada sesuatu yang terlupakan. Fokus kita akhirnya berubah, sampai akhirnya, melupakan prioritas utama yaitu belajar firman Tuhan. Padahal tujuan utama kita sebagai orang percaya adalah bagaimana untuk hidup bersama Tuhan, melalui waktu-waktu pribadi kita dengan-Nya. Apa gunanya hidup melakukan banyak pelayanan tetapi pribadi kita hampa. Kita sibuk dengan aktivitas pelayanan, tetapi lupa untuk mengambil waktu teduh bersama Tuhan. Sesungguhnya waktu bersama Tuhan itu penting untuk kita dapat merefleksikan, apakah yang kita kerjakan seturut dengan kehendak-Nya atau malah hanya sekedar ambisi kita?

Bukan berarti kita tidak perlu terlibat dalam pelayanan-pelayanan yang ada. Tapi, sekali lagi, bagaimana kita juga tetap memiliki fokus kepada Tuhan dalam setiap hal yang kita kerjakan. Menyediakan waktu untuk suatu hal yang utama dalam hidup, bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari pada kita, “ duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya.” Ketika kita sungguh memiliki hubungan yang akrab bersama Tuhan, apapun juga yang kita perlu maka akan disediakan-Nya bagi kita. Termasuk hikmat untuk menentukan prioritas hidup kita, sehingga kitapun akan lebih berani mengambil komitmen yang bijak. Karena, untuk berani mengambil komitmen itu tidaklah mudah. Kita perlu yakin dengan sungguh atas pilihan kita, sehingga tidak akan mudah goyah oleh apapun juga.

Sebab, alangkah baiknya ketika kita mampu menentukan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita, karena dengan demikian kita dapat mengetahui mana hal yang terutama dalam hidup kita, supaya kita tetap setia  dan tekun dalam mengerjakan dan mengusahakannya.
Oleh karena itu, saudara-saudara yang terkasih, PUT GOD FIRST, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)
“PILIHLAH BAGIAN YANG TERBAIK, YANG TIDAK AKAN PERNAH DIAMBIL DARI PADAMU.”
Amin. Tuhan Yesus memberkati.



Comments