[RENUNGAN]
Dari: Sdr. Desta P. (FKG'12)
Dari: Sdr. Desta P. (FKG'12)
"The Renewing of Perspective"
Matius 6:25-34
Matius 6:25-34
Seorang teman pemuda saya pernah bercerita tentang dirinya saat pertama kali memasuki dunia kerja. Di tempat kerjanya dia banyak menemukan hal-hal yang salah seperti suap, penyelewengan, pertanggung jawaban yang tidak benar dan banyak hal buruk lainnya. Kemudian suatu hari dia dihadapkan dengan hal yang sama tetapi dia menolak untuk membuat laporan pertanggung jawaban yang tidak benar sehingga teman saya berdebat dengan atasannya. Dia diberi 2 pilihan, pilihan pertama, lakukan sesuai perintah dan kembali bekerja & pilihan kedua, lakukan sesuai yang benar menurut anda tapi bukan di tempat ini (dipecat). Namun karena ketakutan akan kehilangan pekerjaan membuat dia memilih pilihan pertama.
Tahukah kita berapa banyak orang percaya yang menghadapi hal yang sama? Merelakan integritas mereka untuk berkompromi dengan dosa dan menjadi serupa dengan dunia ini? Memalsukan pertanggung jawaban yang nanti akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan? Mengkhianati kepercayaan yang telah Tuhan percayakan kepada kita bahwa kita akan menjadi anak-anak terang tapi malah melakukan sebaliknya. Membiarkan terang itu menjadi redup dan menjadi gelap.
Tapi, untuk apakah kita mengorbankan semuanya itu? Untuk uang? Untuk Makanan? Untuk Kemewahan? Tuhan Yesus sendiri mengatakan janganlah kamu kuatir tentang hidupmu dan tentang apapun itu. APAPUN (Ay. 25). Atau kita meragukan janji Tuhan dalam hidup kita. Kita lebih percaya apa yang kita lihat dengan mata dan tidak mengimani janji Tuhan yang belum kita lihat. Manusia pada umumnya lebih memilih perspektif jangka pendek daripada perspektif jangka panjang dalam mengambil keputusan sehingga kita lebih suka dengan kesenangan yang sifatnya semu dan mengabaikan kesenangan abadi yang Tuhan telah janjikan kepada kita.
Menyadari penyertaan Tuhan adalah langkah pertama yang kita lakukan untuk dapat mengubah perspektif kita tentang hidup ini. Tidak masalah apakah kita akan kehilangan pekerjaan, teman-teman ataupun orang yang kita kasihi. Bagaimana kita bereaksi/menanggapinya yang menjadi penting. Kita bisa menjadi frustasi, stres dan marah apabila kita tidak sadar akan janji Tuhan. Tapi sebaliknya jika kita menyadari dan mengimani janji Tuhan dalam hidup kita, yaitu rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11) maka kita pasti akan selalu bisa menanaggapi semua masalah kita dengan bersukacita karena kita tahu Tuhan selalu mengetahui rancanganNya terhadap kita yaitu damai sejahtera.
Dosa, cobaan, masalah, godaan dan hal-hal buruk akan selalu ada dimanapun kita berada. Hal-hal buruk pasti akan datang dikehidupan kita, bagaimanapun cara kita untuk menghindarinya. Tapi, bukan mereka yang harus kita hindari tapi diri kita sendiri yang harus kita benahi. Karena hanya diri kita sendiri yang dapat kita rubah dan baharui. Ubah perspektif kita tentang kehidupan ini, bahwa ada kuasa yang begitu besar yaitu Tuhan yang selalu beserta kita (Matius 28:20b) yang menjamin kita sampai pada akhir zaman. Amin.

Comments