1 Timotius 4: 1 – 16
Jangan seorang pun menganggap
engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya,
dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan
dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12)
Setiap manusia pasti memiliki standar
kualitas hidup. Kreitler & Ben (2004)
mengungkapkan kualitas hidup diartikan sebagai persepsi individu mengenai
keberfungsian mereka di dalam bidang kehidupan. Bagaimana dengan orang Kristen?
Bagaimanakah sesungguhnya standar kualitas hidup seorang Kristen? Dikisahkan
dalam Kisah Para Rasul 11:26, para pengikut Yesus Kristus pertama kali digelari
“Kristen” di Antiokhia karena perbuatan, keseharian dan kata-kata
mereka seperti Kristus.Kita tahu
bagaimana ketaatanNya, penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, kesabaran yang
luar biasa, hal mengampuni dan tentu saja bagaimana besarnya kasih Kristus
kepada manusia. Sebagai manusia pasti sulit untuk berlaku seperti halnya
Kristus apabila mengandalkan diri sendiri, tetapi sebagai ciptaan baru yang
telah diubahkan dan telah menerima Roh Kudus untuk tinggal di dalam kita,
seharusnya kita bisa terus berlatih dan bertumbuh untuk semakin lama semakin serupa
dengan Kristus.
Sadar atau tidak kehidupan seorang
“Kristen” akan terus dinilai, diteladani dan dipercayai dan diharapkan
kehadirannya membawa damai sejahtera sebagaimana kehadiran Kristus yang membawa
damai sejahtera ke dalam dunia. “Kesaksian yang paling
hidup dari orang Kristen terhadap orang yang belum percaya adalah hidup orang
Kristen itu sendiri.” Hidup seseorang yang telah diubahkan karena kasih dan
kuasa Kristus berbicara jauh lebih “keras” daripada ribuan kata-kata. Hidup
orang Kristen yang telah diubahkan adalah “senjata” yang ampuh untuk menjangkau
orang-orang yang belum diselamatkan.
Mahatma
Gandhi, seorang tokoh kemerdekaan India pernah berkata: "Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka “Kristus” Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang “Kristen” anda." Mengapa seorang tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi mengatakan dia
tidak suka dengan orang “Kristen”? Kita akan mengerti
mengapa Gandhi mempunyai pandangan itu jika kita melihat pada pengalamannya saat di Afrika, ketika dia sebagai
anak muda yang tertarik dengan kekristenan dan mempertimbangkan untuk menjadi
seorang Kristen, malah diusir oleh seorang penerima tamu di gereja.Dalam kisah Mahatma Gandhi, kita melihat bahwa suatu tindakan keangkuhan dari seorang yang seharusnya mewakili Kristus bisa menghentikan
langkahnya untuk mempertimbangkan Kekristenan bagi dirinya.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah
hidup kita betul-betul sudah mencerminkan hidup seorang “Kristen”? Apakah saat
melihat kita,orang bisa melihat “Kristus” benar-benar hadir dan mengubahkan
kehidupan kita? Ataukah hidup kita malah menjadi batu sandungan bagi
orang-orang di sekitar kita?
Untuk bisa menjadi serupa dengan
Kristus tentunya tidak mudah, ada banyak tantangan yang harus kita hadapi.Pada
1 Timotius 4:1-3, rasul Paulus memberikan gambaran bahwa akan ada
pengajar-pengajar sesat, ajaran-ajaran setan, dan tipu daya pendusta-pendusta
yang dapat mengacaukan kehidupan beriman orang percaya. Segala sesuatu yang
terlihat baik, namun ternyata dapat menurunkan kualitas hidup beriman kita
kepada Tuhan. Segala sesuatu itu yang menawarkan kenikmatan yang semu, tidak
mencerminkan kehidupan yang diinginkan Tuhan, dan juga menipu kita dengan
berbagai tawaran yang menggiurkan.
Lalu,sebagai orang Kristen bagaimana
caranya mempertahankan kualitas kehidupan kekristenan kita? Sebagai seorang
muda, seperti Timotius, apakah yang harus kita lakukan untuk mempertahankan
agar kehidupan kita betul-betul mencerminkan seorang pengikut Kristus?
Melalui suratnya kepada Timotius, Paulus
mengingatkan kepada Timotius&juga kepada kita agar senantiasa:
1. Menjadi teladan dalam segala hal
(ay.12)
Timotius, seorang muda, namun dipercayai oleh
Paulus untuk melayani di Efesus. Paulus meyakini bahwa sebagai orang yang masih
muda Timotius bisa diarahkan dan diingatkan untuk tetap bertahan dan menjadi
teladan bagi orang-orang yang dilayaninya saat itu.
Bagaimana dengan kita?Sudahkah kita menjadi
teladan?Bagaimana dengan perkataan kita? Apakah perkataan kita membangun,
menguatkan dan memberkati orang lain, ataukah kata-kata sia-sia yang terlontar
(umpatan, kutuk dan sebagainya)? Bagaimana dengan tingkah laku kita?
Apakah sudah sesuai dengan firman Tuhan atau malah jadi batu sandungan bagi
orang lain? Begitu pula dalam hal kasih, kesetiaan dan juga kesucian?
2. Ketekunan (ay. 13-14)
Paulus menegaskan bahwa pelayanan yang
ia temui tentunya tidak mudah,sehingga senjata yang paling ia butuhkan adalah
dengan senantiasa membangun hubungan yang erat dengan Tuhan lewat pembacaan dan
perenungan Firman Tuhan setiap hari. Dan bukan hanya itu, tetapi di ayat 14
juga menegaskan bahwa ketekunan menjadikan seseorang tahu dan bijak dalam
mempergunakan karunia yang ada padanya. Diharapkan agar Timotius harus mampu
tekun, teliti dan cekatan dalam mempergunakan karunia yang telah ada padanya.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan saat
teduh kita setiap hari? Apakah teratur atau masih bolong-bolong? Apakah saat
musim liburan seperti saat ini, Alkitab kita juga liburan? Bagaimana dengan
talenta yang Tuhan berikan? Sudahkah kita pergunakan untuk kemuliaan Tuhan?
3. Senantiasa berjaga-jaga (Ay. 15-16)
Kata “memperhatikan” menegaskan agar kita senantiasa
menjaga dan memelihara dan bahkan senantiasa memeriksa apa yang telah kita ajarkan
dan lakukan di dalam kehidupan persekutuan agar tetap berada di dalam koridor
Firman Tuhan. Selain itu, sikap berjaga-jaga tersebut membuat kita tidak
bertindak ceroboh, tetapi lebih hati-hati dalam kehidupan kita. Dengan kata
lain ini merupakan tuntutan untuk berintegritas di tengah dunia. Jangan sampai,
apa yang kita perkatakan malah tidak sesuai dengan yang kita lakukan,sehingga
menjadi batu sandungan bagi diri kita sendiri dan menjadi cemooh bagi orang
lain pada akhirnya.
Yang
membedakan kekristenan dengan kepercayaan lainnya ialah tujuannya yaitu menjadi
serupa dengan Kristus. Sehingga kesalehan dalam konteks kristiani bukan sekedar
moralis, bukan hanya ibadah secara lahiriah, bukan hanya konsep tentang Allah,
bukan pula kebajikan ataupun idealisme melainkan hidup yang berakar pada
Kristus. Kekristenan itu tidak sekadar percaya lalu
jadi anak Allah, tetapi belajar untuk menjadi serupa dengan Kristus! Tentunya
tidak mudah dan banyak tantangan, tapi kita telah belajar cara untuk menghadapi
tantangan-tantangan tersebut dan diperlukan latihan terus-menerus (ay.7-8) agar
bisa mempertahankan kualitas hidup seorang Kristiani dalam segala situasi dan
kondisi.
oleh: dr. Rizky Juniarti Nober FK'07
Comments