“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus
turun ke atas kamu, dan kamu menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea
dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8)
Bersaksi,
mendengar kata ini mungkin pikiran kita mengarah kepada beberapa orang percaya
yang secara khusus diberi karunia untuk pelayanan mimbar seperti pendeta atau pelayanan
penginjilan. Namunapakah benar bersaksi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang
tertentu saja? Tentu saja tidak, memang hanya beberapa orang yang secara khusus
diberi karunia untuk pelayanan khotbah atau penginjilan, meski demikian semua
orang percaya terpanggil untuk menjadi saksi yang setia dari Tuhan Yesus1. Tapi mengapa orang percaya perlu bersaksi? Mengapa
Tuhan Yesus memberikan tugas ini? Jawaban dari pertanyaan ini mencakup isi dari
Alkitab yang kita baca dan yakini kebenarannya. Dari semula Allah menciptakan manusia
beserta isi dunia dalam keadaan yang baik. Dia menciptakan manusia untuk memelihara
dan menguasai ciptaan-Nya yang lain, memiliki hubungan yang karib dengan-Nya dimana
manusia hidup bersama dengan-Nya di dalam Taman Eden. Namun, seperti yang telah
kita ketahui bahwa manusia melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah
sehingga hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak, manusia menjadi terpisah dengan
Allah Sang Pencipta. Dari peristiwa inilah misi Allah bagi dunia dimulai. Rangkaian
kisah dalam Alkitab menceritakan kisah yang mengarah kepada pemenuhan misi
Allah ini. Allah berinisiatif untuk memperbaiki hubungan-Nya yang telah rusak/terpisah
dengan ciptaan-Nya, membawa dunia tempat tinggal ciptaan-Nya yang telah jatuh ke
dalam dosa kepada dunia yang telah ditebus tempat ciptaan-Nya yang baru, suatu proyek penyelamatan kosmis yang luas dan
komprehensif1 melalui Anak Tunggal-Nya Yesus Kristus.
Dalam pelaksaan misi Allah ini, Dia menghendaki
umat pilihan-Nya (orang-orang yang percaya kepada-Nya) untuk turut berperan
aktif dalam pelaksanaan misi Allah tersebut.Sebagai orang-orang percaya yang telah
mengenal satu-satunya Allah yang hidup, merasakan kasih-Nya, menerima anugerah keselamatan
melalui penebusan dosa-dosa kita oleh Yesus Kristus, kita diberikan tugas untuk
memperkenalkan Allah.
Ayat tema nafiri bulan ini merupakan salah satu ayat yang
menyatakan kehendak Allah untuk kita
terlibat dalam misi-Nya dengan menjadi saksi-Nya. Ayat
ini menyatakan tugas yang Tuhan Yesus berikan kepada para murid mula-mula sebelum
Dia naik ke surga.Tugas untuk menjadi saksi-Nya di berbagai daerah bahkan hingga
ke ujung bumi akan tetapi mereka perlu menunggu Roh Kudus turun ke atas mereka sebelum
mereka pergi menjadi saksi. Jika kita hanya membaca bagian ini dan beberapa ayat
sebelumnya mungkin kita akan berpikir bahwa tugas ini hanya diperuntukkan bagi murid-murid
(para rasul) Yesus saja, tetapi jika kita membaca kelanjutan kisah ini, kita akan
melihat bahwa Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan turun kepada semua orang percaya dan
mereka berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain tentang perbuatan-perbuatan besar
yang dilakukan Allah (KPR 2:1-13). Dan masih banyak lagi bagian Alkitab yang
menyatakan hal ini, tentu saja termasuk bagian yang kita sebut Amanat Agung dalam
Matius 28:19-20, Markus 16: 15-16, Lukas 24:44-40. Allah menghendaki kita untuk
memberitakan semua hal tentang diri-Nya dimanapun Tuhan menempatkan kita, mulai
di rumah kita (di Yerusalem) kepada keluarga
kita, dan lingkungan sekitar kita (dan di seluruhYudeadan Samaria) kepada
orang yang sudah percaya dan yang belum percaya , dan sampai ke ujung bumi kepada semua bangsa.
Bersaksi
dapat dilakukan melalui kesaksian verbal dan kesaksian hidup. Kesaksian verbal dapat
diwujudkan dalam berbagai hal misalnya melalui khotbah, penginjilan kepada orang-orang yang belum mengenal Juruselamat,
pujian-pujian. Mungkin kamu akan berkata aku ga bisa berkhotbah, aku
ga tahu cara menginjili, suaraku tidak merdu seperti Maria Shandy, namun kamu
bisa bersaksi dengan menceritakan pengenalan dan pengalamanmu dengan
Yesus Kristus, saat kamu duduk santai dengan teman/keluarga, daripada
gosipin orang, lebih baik kamu menceritakan kebaikan Tuhan yang kamu alami. Kamu
bisa membagikan Firman Tuhan yang bisa menguatkan/mengingatkan orang lain, dan
masih banyak lagi. Atau ketika ada yang bertanya tentang keyakinanmu, wah
kesempatan yang amat baik untuk menceritakan tentang Yesus. Selain kesaksian
verbal, kesaksian
hidup juga merupakan bagian yang sangat penting. Saat TuhanYesus
memanggil murid-murid mula-mula, mereka tidak hanya untuk diutus untuk mengerjakan
tugas dari-Nya saja, tapi mereka dipanggil untuk mengikuti Dia, hidup bersama-sama dengan Dia, berjalan
bersama-sama dengan Dia. Demikian pula dengan kita, murid-murid saat ini, kita dipanggil
untuk hidup di dalam Dia, Dia di dalam kita, berjalan dalam jalan-jalan-Nya,
dalam kebenaran dan keadilan-Nya di tengah-tengah dunia yang telah rusak ini.
Hidup kita haruslah hidup yang berkenan bagi Tuhan, hidup yang mendemonstrasikan tabiat Allah kepada dunia
sehingga dunia akan mendekat kepada Allah1,
seperti yang dinyatakan dalam Matius 5:16 “Demikianlah
hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu
yang baik dan memuliakan Bapamu di Surga.”Kita harus hidup di dalam Allah
jika kita ingin pergi untuk memberitakan (menjadi saksi) tentang Allah. Kesaksian
verbal tanpa kesaksian hidup yang tidak mencerminkan Allah kita, akan
membuat kesaksian verbal kita menjadi sulit diterima oleh orang lain. Coba bayangkan
hari ini dengan penuh semangat kamu menceritakan kepada
seseorang bahwa Allah yang kamu sembah adalah pribadi
yang penuh kasih, rela turun ke dunia yang penuh dengan dosa dan telah memberi diri-Nya
untuk menebus dosa manusia, namun keesokan
harinya dia mendengar bahwa kamu tidak memaafkan seorang yang pernah melakukan
kesalahan kepadamu. Di luar rumah kamu sangat rajin ikut persekutuan,
pelayanan, tapi di rumah kamu suka marah-marah, berbohong atau bertengkar
dengan orang tua atau saudaramu, yang membuat orang rumah menilai bahwa percuma
rajin ikut persekutuan/pelayanan. Atau sebagai mahasiswa, kamu menyontek, malas
datang kuliah, titip absen, berpakaian yang tidak sopan, dsbnya, orang-orang di
sekitar kita akan melihat orang Kristen ga ada bedanya dengan yang bukan
Kristen. Jadi
kesaksian verbal dan kesaksian hidup adalah satu hal yang terintegrasi.
Meskipun
kita bukanlah saksi mata kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus secara langsung
seperti para murid mula-mula, semua generasi orang percaya setelahnya ikut terlibat
dalam tugas berkesinambungan untuk membawa kesaksian tentang TuhanYesus Kristus
yang sama, yang kepada-Nya kita telah menjadi percaya melalui kesaksian para murid
mula-mula. Pengalaman dengan Allah bukanlah sesuatu hal yang terjadi dengan diri
kita sendiri dan berhenti di situ1. Tetapi pengalaman
dengan Allah haruslah mempengaruhi seseorang atau sesuatu yang lain sama seperti
garam dan terang. Karena itu, hendaklah setiap perkataan, pemikiran, perbuatan,
seluruh aspek kehidupan kita menjadi kesaksian yang baik bagi orang lain
sehingga mereka dapat mengenal dan memuliakan Allah kita, bahkan membawa mereka
menerima keselamatan yang telah kita terima. Jangan takut dan ragu, sebab Tuhan
sendiri telah memberi kita kuasa, kemampuan melalui Roh Kudus yang telah turun atas
kita untuk melakukan tugas yang Dia berikan.Tuhan Yesus menyertaimu.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Wright, CHJ. Misi
Umat Allah. Jakarta: Literatur Perkantas, 2011. Hal: 209, 54, 208
oleh: Alumni
Comments