Renungan: Mulutmu Harimaumu


Komunikasi verbal memanfaatkan kekuatan kata. Kata – kata membentuk realitas, sehingga mengandung kekuatan yang luar biasa. Seseorang dapat mengubah persepsi orang lain tentang realitas dengan pilihan kata – kata yang digunakan.

Mulut adalah media untuk mengartikulasikan segala yang ada dalam hati. Ucapan merupakan cerminan dari hal tersebut. Ungkapan pikiran dan hati, dengan media apapun tentu mempunyai tujuan yaitu dapat dibaca dan diketahui banyak orang.

1 Petrus 3 : 10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik , ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu”.
1.      “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik”.
a.       ‘Mencintai hidup’.
Kata-kata ‘mencintai hidup’ dalam 1Pet 3:10 ini berbeda dengan ‘mencintai nyawa’ yang merupakan tindakan yang dikecam oleh Kristus dalam Yoh 12:25.
Yoh 12:25 - “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”.
‘Mencintai nyawa’ dalam Yoh 12:25 ini dikecam Kristus, karena itu adalah ‘mencintai nyawa sendiri secara egois’. Sedangkan dalam 1Pet 3:10 ini Petrus mengajar kita untuk hidup dengan baik, sehingga membuat kita merasakan kehidupan yang sejati.
b.       ‘Melihat hari-hari baik’.
1)     Ini tidak ada hubungannya dengan ‘hari baik’ yang dipilih orang untuk menikah, pindah rumah dsb, yang semuanya hanya didasarkan pada takhyul.
2)     Kata-kata ‘melihat hari-hari baik’ tidak harus diartikan secara jasmani, tetapi dalam pandangan Allah. Jadi bisa saja apa yang bagi manusia kelihatan sebagai ‘hari yang buruk’, bagi Allah merupakan hari yang baik yang Ia anugerahkan kepada kita.
2.       “ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”.
a.       Bagian ini dan selanjutnya (sampai dengan ay 11) merupakan hal-hal yang harus dilakukan supaya kita bisa mencintai hidup dan melihat hari-hari baik.
b.       Yang pertama ditekankan adalah ‘membuang dosa dengan lidah’, sehingga kita tidak menjadi seorang yang menghina dan kurang ajar, juga tidak berbicara secara menipu dan bermuka dua. 
c.       Contoh dari orang-orang yang menggunakan lidahnya secara salah.
Maz 12:3-5 - “(3) Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. (4) Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar, (5) dari mereka yang berkata: ‘Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?’”.

Mulutmu Harimaumu adalah sebuah peribahasa atau pepatah yang artinya kurang lebih : karena kesalahan berucap atau berkata-kata maka akan berakibat buruk pada diri sendiri. Ibarat kita bermain dengan harimau, maka sangat mungkin harimau tersebut menerkam kita. Mulutmu Harimaumu identik dengan mulutmu ibarat pedang, kata-kata yang terlontar dari mulut kita dikatakan sebagai lebih tajam dari pedang, karena kesalahan berucap dapat mengakibatkan pertumpahan darah dan bahkan kerusuhan massal. Atau bahkan akibat dari ucapan tersebut, diri sendirilah yang menerima resiko negatifnya, misalnya perlakuan buruk dan pembunuhan.

Lidah tak bertulang ternyata bisa menimbulkan kejahatan, dia bekerjasama dengan bibir maka perbuatan menipu bisa terjadi apalagi pada saat iman lemah atau goyah. Sangat penting untuk mengontrol setiap kata yang diucapkan, sebab kata-kata adalah refleksi dari diri. Oleh karena itu nas ini telah mengingatkan kita untuk menjaga ucapan yang dikeluarkan setiap hari, pengendalian diri sangat berperan penting dalam kehidupan.

~ Ireni Siampa, S.Kep., Ns.; dari berbagai sumber~

Comments