Oleh: Kak Budianto Napoh
Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 25 : 29)
Matius Pasal 25 terbagi dalam 3 kisah dan terjadi/dikisahkan oleh Yesus kurang lebih 2 atau 3 hari sebelum Paskah. Seluruh kisah menceritakan tentang Kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Bagian pertama fokus kepada kesiapan setiap waktu (Ay. 13), Bagian kedua fokus kepada tanggung jawab akan talenta (ay.29) dan Bagian ketiga fokus akan tanggung jawab kita kepada sesama termasuk kepada semua hal-hal yang hina (Ay. 40).
Ketiga bagian ini sangat erat kaitannya dan merupakan satu kesatuan harapan Tuhan akan kita umatNya. Ingat!!! Harapan Tuhan akan umatNya.
Talenta sebenarnya melambangkan tanggung jawab yang berbeda yang harus dijalankan sesuai dengan kemampuan masing-masing orang. Talenta lebih dapat dipahami sebagai “Berkat atau Karunia” namun saat ini, Talenta cenderung disebut sebagai ”Bakat”.
Tuhan memberikan kriteria pemberian Talenta sbb :
1. Talenta diberikan kepada hamba yang dipercaya
Dalam perumpamaan ini, digambarkan bahwa Tuhan memberikan Talenta ini kepada hamba yang dipercayainya (Ay. 14 : Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka). Hamba adalah orang yang telah dibeli oleh Tuan, harus benar-benar taat dan siap melakukan apa saja untuk Tuannya.
2. Talenta diberikan sesuai Kesanggupan
Masing-masing hamba, diberikan talenta yang berbeda menurut kesanggupannya (Ay. 15 : ‘...Masing2 menurut kesanggupannya...”). Tuhan menilai kita sanggup dan pemberiannya disesuaikan dengan kapasitas kita. Oleh karena itu, jangan pernah membanding-bandingkan kapasitas karena Tuhanlah yang berhak menilai kapasitas kita.
Hamba yang menerima satu talenta menjadi gambaran manusia yang Takut (Ay. 25 : “Karena itu aku Takut...”). Apa alasan ketakutannya? Tuannya kejam karena tidak menanam dan tidak menabur. Dengan kata lain, Hamba ini tidak dapat bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Hamba ini bergantung penuh pada Tuannya, Tidak mandiri atau kita bahkan dapat menyebutnya dengan Hamba yang manja. Sikap manja inilah yang membuatnya takut dan tidak lagi bekerja. Hamba ini menjadi lambang penyalahgunaan kepercayaan Allah.
Perumpaman ini juga menjadi gambaran bahwa Tuhan sangat bergantung kepada kebaikan dan kesetiaan Hamba2Nya. Oleh karena itu, jangan pernah sia-siakan Talentamu. Pergunakan dengan penuh tanggungjwab. Talenta itu milik Tuhan yang hanya dipercayakan untuk kita pergunakan bagi Tuhan. Apapun Talentamu, Tuhan memberinya karena mempercayaimu dan menilai kesanggupanmu.
Itulah sebabnya, ketika kita tidak mengusahakan Talenta itu, maka Tuhan akan mengambilnya dari kita dan memberikan kepada orang lain. Orang yang tidak mempunyai lebih merujuk kepada orang yang tidak mempunyai tanggungjawab dan orang yang mempunyai merujuk kepada orang yang bertanggungjawab.
Multitalenta juga tidak menjadi jaminan pujian dari Tuhan karena Tuhan melihat dan menilai prosesnya bukan hasilnya. Tuhan tidak sekalipun memuji hasil dari setiap hamba tetapi kesetiaan, kebaikan dan tanggungjawabnya. Mengapa Tuhan tidak menilai hasilnya? Karena hasil adalah bagian dari pekerjaan Tuhan. Pekerjaan kita adalah mengerjakannya dengan setia, baik dan penuh tannggungjawab
Kesimpulan :
Talenta menjadi gambaran yang jelas bahwa manusia hanyalah pengelola bukan pemilik atas Talenta itu. Talenta dari Tuhan dan untuk Tuhan.
Comments