Kesaksian oleh drg.Zethmar Vidaus FKG '00

Kisahku, PTT ku
 
Bulan Juni tahun 2009 merupakan awal kisahku didunia PTT sebagai dokter gigi. Saat itulah pertamakali ku menginjakkan kaki di bumi Borneo tepatnya di Kab.Malinau. Setiba di Malinau, sungguh sangat kaget melihat daerah ini, daerah yang sunyi, sepi dan dikelilingi hutan belantara. Timbul pertanyaan dalam benakku “Tuhan mengapa Kau tempatkan aku disini?” pertanyaan ini slalu timbul setiap hari dalam benakku,. Setelah seminggu merenung, serasa tak sanggup kumelaksanakan tugas PTT ini. Sempat berfikir untuk balik segera ke Makassar, tapi syukurlah Tuhan segera menyadarkanku melalui saat teduh bahwa keberadaanku disini semata-mata karena Tuhan yang mengutus. Sekalipun begitu, tetap juga belum tau apa maksud Tuhan mengirimku ke daerah ini. Hanya sempat teringat saja kisah Abraham menuju tanah Kanaan, dimana Abraham hanya berjalan dengan iman saja tanpa tau Kanaan itu seperti apa. Setelah 3 minggu berada di kabupaten, akhirnya Dinas Kesehatan Kab.Malinau mengeluarkan surat perintah melaksanakan tugas di Kec.Mentarang Hulu, desa Long Berang. Ketakutan pun mulai timbul kembali. Konon dari cerita orang medan, ke desa itu sangat berat karena harus melewati sungai selama 6 jam dengan jeram-jeram yang menakutkan. Kalau air sungai surut, maka terpaksa perahu harus ditarik melewati batu-batu sungai. Sebagai orang kota, hal ini sangatlah berat. Karena teringat bahwa ini amanat dari Tuhan,maka harus memberanikan diri untuk berangkat ke desa itu karena kutau bahwa Tuhan yang akan menyanggupkanku. Akhirnya tiba juga di desa yang berpenduduk sekitar  40 org itu, tak ada listrik, tak ada signal, dan terletak ditengah-tengah hutan dan gunung. Hmmmmm……semakin bingung menjalani semua ini, kenapa Tuhan menempatkanku disini. Hari demi hari harus dilewati dengan penuh kesabaran. Setiap hari pun harus bangun pagi untuk bersaat teduh dengan bermodalkan senter(bayangkan bersaat teduh dengan senter). Dalam saat teduhku kebanyakan Tuhan mengajarkan untuk senantiasa rendah hati dalam menghadapi setiap permasalahan. Hal ini terinspirasi dari kisah Ayub yang melewati kisah-kisah tragis dalam hidupnya, namun dia pun berhasil melewatinya. Melalui hari-hari dengan penuh sabar dan rendah hati skalipun berada dalam kungkungan hutan belantara. Mulai mencoba beradaptasi dengan masyarakat setempat. Mulai melayani pasien satu persatu. Menghadapi masyarakat di pedesaan sangat sulit dibandingkan dengan masyarakat perkotaan karena perbedaan tingkat pendidikan mungkin. Terkadang harus dicaci maki, dimarahi, bahkan disuruh mengerjakan pekerjaan yg tidak sesuai dengan kompetensi dengan peralatan yang terbatas. Yahhh itulah resiko, “kalau ga mau dimarahi, jangan jadi dokter”. Terus bertahan dengan kondisi ini karena kutau bahwa Tuhan punya rencana yang indah. Setelah mempelajari situasi di daerah ini, ternyata solusinya adalah harus menyatu dengan masyarakat setempat agar bisa melayani mereka dengan baik. Itu kulakukan dan ternyata berhasil untuk mejadi bagian dari mereka. Bulan agustus 2009, untuk pertamakalinya sekolah menengah pertama (SMP) dibuka. Dan karena tidak ada guru, maka kepala sekolah memintaku dan dr.Robert(dokter umum) untuk mengajar disekolah. Kembali bertanya ”Tuhan apakah ini juga kehendakmu?” tidak pede untuk mengajar karena jujur aku tidak bisa mengajar. Kembali lagi berdoa kepada Tuhan, dan jawaban-Nya selalu disuruh sabar dan rendah hati. Akhirnya tawaran untuk mengajar pun kuterima. Awalnya gugup dan berantakan dalam mengajar, bahkan hampir berantem dengan siswa yang badannya lebih gede dari aku. Weleh welehhh…..satu kesaksian yang buruk. Kembali lagi bertanya pada Tuhan dan selalu jawaban-Nya sabar dan rendah hati. Hari berganti hari terus menerus berusaha untuk dapat mengajar dengan baik. Terkadang harus terpaksa meninggalkan pelajaran dan berlari ke puskesmas untuk melayani pasien , tidak hanya pasien gigi, pasien umum pun terpaksa ku layani jika dokter umumnya tidak ditempat. Itulah suka dukanya menjadi dokter sekaligus guru, tidak boleh fifty-fifty tapi harus 100% dokter dan 100%guru karena sama-sama pelayanan. Hanya karena anugerah Tuhan lah sehingga semuanya bisa terlewati dengan baik sampai sekarang. Sekalipun dalam lembah kekelaman, yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya, asalkan kita sebagai umat senantiasa taat dan setia kepada-Nya. Lakukan semua yang terbaik untuk Tuhan tanpa memandang untung dan ruginya, sekecil apapun pelayanan itu karena upah kita bukan di bumi melainkan di surga.

Dari sepenggal kisah diatas, mengingatkan kita semua bahwa seberat  apapun pergumulan kita mari serahkan semuanya pada Tuhan karena bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Jangan pernah menganggap sesuatu itu sulit ataupun susah, Tuhan pasti akan berikan jalan keluar. Jangan segan-segan untuk bertanya pada Tuhan. Doakan dahulu masalahmu, baru bertindak, yakinlah tak akan ada yang sia-sia. Buat adek-adek pengurus harus tetap setia dan sehati dalam melayani Tuhan. Memang banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam melayani Tuhan, tapi semua itu akan terasa mudah jika Tuhan dilibatkan didalamnya. Jangan pernah ada niat untuk mundur dari pelayanan, bukan kuat kita tapi karena anugerah Tuhan lah yang memampukan kita untuk melakukannya. Komitmen pelayanan yang sudah diambil, harus terus dilanjutkan. Dalam pelayanan tidak ada kata susah/sulit. ”barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (luk 16:10). Tuhan Yesus memberkati.

Comments